Trend pemikiran barat atas
perubahan di masa depan sangat besar. Para ahli Hubungan Internasional angkat
bicara. Mereka saling mengadu argumentasi atas arah perubahan dan kemungkinan
di masa depan. Tentu dengan perspektif tertentu bahkan ditaburi dengan stigma
masing-masing. Oleh sebab itu, tak elak lagi pemikiran mereka menghasilkan satu
persamaan dan perbedaan. Apalagi agaknya bila dijadikan timbangannya adalah
dunia Islam dan Islam itu sendiri. Parade pemikiran di sini membandingkan
pemikiran John Nasibitt dengan pemikiran John L. Esposito dan pemikiran Samuel
Huntington. Apa proposisi mereka tentang dunia Islam dan Islam itu sendiri?
Bagaimana dampak pemikiran John Naisbitt atas dunia Islam?
Tulisan
John Naisbitt yang sudah beredar di Indonesia dan dianggap best seller adalah buku monumental 2000 dan global paradox adalah yang terbaru beredar di sini. Dalam cover
buku itu, dikatakan bahwa buku ini juga termasuk best seller dalam oplah penjualan di mancanegara. Oleh sebab itu,
para pemangku kebijakan di dalam pemerintahan sering mengacu ke buku ini.
Dengan alasan itu pula, buku ini dibahas dan dikonfrotir dengan tulisan John L.
Esposito dalam buku Islamic Threat: Myth
or Reality? dan tulisan Samuel Huntington dalam The Clash of Civilzation.
Untuk
mengurai satu per satu tulisan John Naisbitt, disini mau tidak mau hanya
diambil point-point utama, pokok dan mendasar. Point-point ini disusun dan
ditempatkan dalam satu kesatuan dari proposisi utama ke proposisi turunannya.
Ini kemudian diulas dan dikonfrontir dan proposisi-proposisi dua pemikiran
lainnya, sehingga point itu menjadi jelas dalam proposisi ketiga pemikir di
atas dan dalam kerangka dunia Islam. Dengan demikian, kedalam esensi mereka
dapat ditentukan dan memungkinkan kita mengambil sikap atas tulisan itu.
Analisa
Naisbitt dalam buku Global Paradox
sebagian besar berkenan dengan analisa perkembangan, sarana, wilayah dan
kebijakan dalam bidang ekonomi dunia, khususnya dengan perusahaan konglomerat
internasional MNC (Multi National Corparation). Kiat dan kebijakan MNC yang
terjabarkan di sini mengalami akumulasi gerakan secara mondial karena kemajuan
dalam bidang teknologi, khususnya teknologi informasi. Analisa economic oriented ini sesungguhnya
terbungkus dalam analisa secara politik dan sosiologis. Walau ada kesan
dominasi analisa ekonomi yang begitu besar sehingga agaknya kurang layak
menjajarkan dalam parade pemikirannya dengan John L. Espositi dan Samuel
Huntington.
Point
penting dalam analisa John Naisbitt adalah universalisme vs tribalisme
(kesukuan). Dalam pandangannya, tribalisme adalah kepercayaan akan kesetiaan
pada sesama jenisnya sendiri yang didefinisikan oleh etnistas, bahasa, budaya,
agama atau pada akhir abad ke-20 ini, profesi. Ia katakan, “akan tetapi, jika
anda seorang Muslim Bosnia yang berbahaya anda adalah seorang Muslim yang
tertindas”. Dalam ordo universalisme, globalisme menjadi acuan. Ia katanya,
bergerak dari pencanggihan teknologi komunikasi, globalisasi, ekonomi, pemapanan
budaya pop Amerika (American pop
Culture), merajalelanya MNC dan menstukturnya jargon politik Barat:
demokrasi. Acuan ordo universalisme ini melemahkan dan bahkan menghancurkan
Negara-bangsa (nation-state) yang
sudah berada dan mapan itu, dan menciptakan nagara-suku (etno-state).
Melihat
analisa John Naisbitt, Huntington mengusung paradigma baru pasca perang dingin:
pertarungan peradaban (civilization). Peradaban dalam kosakata Huntington
berarti kesatuan kebudayaan. Ia merupakan pengelompokan individu dalam tingkat
budaya yang tertinggi dan level identitas individu yang paling luas, yang
membedakan antara satu individu dengan individu yang paling luas, yang
membedakan antara satu individu dengan individu lainnya. Pertarungan ini
terjadi karena peradaban berbeda dalam sejarah, bahasa, budaya, tradisi dan
yang paling penting agama. Dalam pertarungan peradaban uni Huntington menyebut
tujuh peradaban yang akan menjadi peserta: peradaban barat, konfusian, Japan,
Islam, Hindusm Slavia-Orthodoks, Amerika Latin dan Afrika.
Pertarungan
peradaban, bagi Huntington, disebabkan beberapa gerakan gelombang besar. Pertama.
Perbedaan antar peradaban karena latar belakang sejarah, bahasa, budaya,
tradisi dan agama. Kedua, dunia semakin menjadi wadah yang semakin kecil. Interaksi
antara individu yang berlatar peradaban yang berbeda semakin besar dan
menyebabkan semakin tinggi tingkat kesadaaran dan penyadaran peradaban, antar
peradaban dan keidentikan dalam peradaban individu itu sendiri. Ketiga,
proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial di seluruh dunia memisahkan
identitas lokal sebuah masyarakat. Keempat, tumbuhnya kesadaran peradaban
akibat kebangkrutan Barat. Lima, karakter dan perbedaan budaya
semakin mengkristal, non pembauran dan tidak dipilah-pilih dibandingkan dalam
bidang ekonomi dan politik. Terakhir, semakin meningkatnya kerjasama ekonomi
regional.
Dibandingkan
kedua pemikir Barat di atas, Esposito mengambil jalan yang agak lain melihat
perubahan pasca perang dingin ini. Analisanya bahwa Islam dan Barat mempunyai
perbedaan-perbedaan yang sebenarnya dapat dijembatani. Islam mempunyai wawasan
sejarah dan peradaban yang berbeda dengan apa yang di Barat. Perbedaan ini
sering dilupakan banyak pihak yang memegang tampuk pengambilan keputusan (decision maker). Akibatnya keputusan
yang diambil mensimpulkan bahwa pasca perang dingin adalah Islam versus Barat.
Ini hanya karena salah mengambil kesimpulan. Esposito katakan, “kecenderungan
untuk menghakimi tindakan kaum Muslimin secara isolatif, menggeneralisasi tindakan
pihak-pihak tertentu, sebagai tindakan keseluruhan, menyepelekan ekses-ekses
sejenis yang dilakukan atas nama agama-agama dan ideology-ideologi lain, juga
bukanlah hal baru”.
Dalam
tulisannya di buku The Islamic
Thereat:Myth or Reality?, ia mengutip pernyataan Maxim Rodinson yang
membandingkan hubungan historis yang terpolarisasi anatara Nashrani dan Islam
dengan persaingan yang berlangsung baru-baru ini di seantero dunia antara
kapitalisme dan sosialisme. Rodinson berkata, “dari perspektif politik dan ideologis,
jika seseorang memperbandingkan sikap agama Nasharani terhadap Islam dengan
sikap kapitalisme Barat terhadap komunisme dewasa ini, maka dengan jelas
terlihat kesamaannya. Pada masing-masing pengelompokan, kedua sistem
itu saling terasing satu dengan yang lainnya; sementara dalam setiap sistem
itu, ideologi dominan yang tunggal menyaratakan faksi-faksi yang berbeda dan
bermusuhan dalam satu kategori”.
Mempertimbangkan
proposisi-proposisi para pemikir Barat di atas, terlihat bahwa John Naisbitt lebih
cenderung menempatkan strategi Barat (strategi ekonomi, politik, budaya) untuk
penetrasi atas dunia non Barat dalam konsep tribalisme dan globalisasi serupa
dengan konsep kolonialisme devide et
impera. Pola pemikiran John Naisbitt dalam tingkat kebijakan dan penerapan
politik Barat serupa dengan proposisi Samuel Huntington. Ia menetapkan
kerangkan pertarungan dalam tatanan hubungan antar peradaban dari pada tatanan
kerjasama dan kemitraan.
Oleh
sebab itu, konsep tribalisme atau pertarungan peradaban dalam esensinya
mengarah pada satu sasaran utama: dunia Islam. Dalam proposisi Huntington,
menurut the Economist (edisi 6/9/94),
hanya tiga peradaban yang benar-benar saling bertarung: Barat, Islam dan
Konfusian. Dalam proposisinya, Huntington memperingatkan Barat akan kemungkinan
jalinan Islam-Konfusian, khususnya pengaligan teknologi, meliter. Namun secara
tersirat, proposisi ini memeritahkan pemerintah Barat untuk merangkul peradaban
Konfusianisme, originalitas kelahiran sebuah ideologi belum pernah terjadi. Ia
hanya mempunyai kekuatan di sektor-sektor utama tertentu dalam masyarakat.
Dengan demikian, sebenaranya pertarungan peradaban atau terjadinya tribalisme
itu pada dasarnya menghadapkan Islam dengan barat.
Dalam
konsepsi pertarungan dan tribalisme di atas, motif secara ekonomi menonjol
karena dunia Islam mempunyai kekayaan alam dan penduduk yang disertai dengan
letak geografis yang sangat strategis.
Gelombang
serangan Barat dalam pertarungan ini berputar dari serangan ideologi hingga
penguasaan wilayah umat Islam. Pertama, Barat mengerakan peradaban
pagan (Hindu, Budha, Kunfusian). Pertarungan abadi di Asia Selatan, Asia
Tenggara dan Asia Timur akan terus bergejolak. Dengan korban pertarungan itu
hanya ada satu nama: mereka menyandang nama Muslim.
Kedua,
Barat menggunakan gereja. Banyak peristiwa besar di Afrika dan Asia
mengisyaratkan pertarungan itu.
Ketiga,
elite politik Negara-negara Islam didukung untuk bertindak represif dan brutal
atas nama nation building.
Keempat,
Barat memperlakukan minoritas Muslim dengan berbagai cara yan tidak sesuai
dengan nilai-nilai Barat sendiri.
Setelah
berbagai serangan tertanam, langkah tribalisme Barat atas nama dunia Islam
akhirnya menciptakan Negara Islam baru atau dan menciptakann Negara Islam baru
atau menciptakan budaya Islam lokal yang
terpisah dari budaya Islam lokal yang terpisah dari budaya Islam yang hakiki.
Keduanya bertopang pada suku, bahasa, budaya, dan agama Islam yang dibumikan.
Dengan demikian, proposisi kedua pemikir Barat ini pada realitas teori dan
praktek telah menjadi acuan. Dalam langkah selajutnya, penetrasi barat atas
Islam melalui, menurut Naisbitt, ekonomi, budaya Pop Amerika, pencitaan akhlaq
Internasional baru dan pariwisata.
Esposito
tidak menyukai keadaan di atas. Walau ada kemungkinan konflik antara Islam dan
Barat, ia lebih memakai pendekatan kerjasama antar-peradaban. Gerakan Islam
marak, menurut Esposito, sebagai reaksi dan respon atas imperialism Barat,
melalui dominasi politik dan budaya.
Imperialisme
Barat menyemai ide-ide Barat yang sangat asing dan tidak dikenal dalam Umat
Islam itu sendiri. Ide kebangsaan, ideologi materialism, sekulerisme Negara, sistem
pemerintahan, sistem parlemen, sistem hukum, persamaan hak dan kewajiban bagi
seluruh warga Negara, demokrasi dan ide-ide lainnya menyingkirkan konsepsi yang
termaktub dalam Al-Qur’an dan As Sunnah: prinsip kekuasaan Allah, Kekhalifahan,
sistem syura, hukum hudud, hukum perkawinan, sistem pemerintahan Islam, sistem
budaya dan lain-lainya.
Konsespsi
Islam di Negara-negara Islam memperlihatkan kesamaan dan analogis satu dengan
yang lainnya. Negara-negara itu semua berada dalam satu kekhilafahan dengan
segala sistem kekhilafan Allah (Allah, Rasul dan Al-Qur’an). Sebaiknya pula,
konsepsi ini, bagi Esposito, juga merupakan ancaman dan tantangan Barat. Ia
katakan, “Islam juga merupakan ancaman terhadap rasa puas diri masyarakat Barat
secara spiritual, sosial, politis, materialism, liberalism, individualism,
toleransi, dan kebebasan ekspresi”.
Serangan
tribalisme dan pertarungan peradaban, dalam proposisi Naisbitt dan Huntington,
dalam kerangka konsepsi Eksposito adalah pertikaian dan peperangan dalam skala
global dan dalam waktu yang lama. Konsepsi penciptaan Negara Islam baru dan
Ideologi budaya Islam lokal baru, dalam kerangka proposisi di atas, sama saja
dengan memilah dan mengotak-kotakan kekhalifahan islam dalam Negara yang
beresistensi akut dan mudah diserang. Dengan demikian, dialog dan Barat sudah
berhenti pada titik ini. Dialoh sudah tertutup