Kajian

Jumat, 07 Juni 2013

Debat Tiga Serangkai Masa Depan Dunia Islam



Trend pemikiran barat atas perubahan di masa depan sangat besar. Para ahli Hubungan Internasional angkat bicara. Mereka saling mengadu argumentasi atas arah perubahan dan kemungkinan di masa depan. Tentu dengan perspektif tertentu bahkan ditaburi dengan stigma masing-masing. Oleh sebab itu, tak elak lagi pemikiran mereka menghasilkan satu persamaan dan perbedaan. Apalagi agaknya bila dijadikan timbangannya adalah dunia Islam dan Islam itu sendiri. Parade pemikiran di sini membandingkan pemikiran John Nasibitt dengan pemikiran John L. Esposito dan pemikiran Samuel Huntington. Apa proposisi mereka tentang dunia Islam dan Islam itu sendiri? Bagaimana dampak pemikiran John Naisbitt atas dunia Islam?

Tulisan John Naisbitt yang sudah beredar di Indonesia dan dianggap best seller adalah buku monumental 2000 dan global paradox adalah yang terbaru beredar di sini. Dalam cover buku itu, dikatakan bahwa buku ini juga termasuk best seller dalam oplah penjualan di mancanegara. Oleh sebab itu, para pemangku kebijakan di dalam pemerintahan sering mengacu ke buku ini. Dengan alasan itu pula, buku ini dibahas dan dikonfrotir dengan tulisan John L. Esposito dalam buku Islamic Threat: Myth or Reality? dan tulisan Samuel Huntington dalam The Clash of Civilzation.

Untuk mengurai satu per satu tulisan John Naisbitt, disini mau tidak mau hanya diambil point-point utama, pokok dan mendasar. Point-point ini disusun dan ditempatkan dalam satu kesatuan dari proposisi utama ke proposisi turunannya. Ini kemudian diulas dan dikonfrontir dan proposisi-proposisi dua pemikiran lainnya, sehingga point itu menjadi jelas dalam proposisi ketiga pemikir di atas dan dalam kerangka dunia Islam. Dengan demikian, kedalam esensi mereka dapat ditentukan dan memungkinkan kita mengambil sikap atas tulisan itu. 

Analisa Naisbitt dalam buku Global Paradox sebagian besar berkenan dengan analisa perkembangan, sarana, wilayah dan kebijakan dalam bidang ekonomi dunia, khususnya dengan perusahaan konglomerat internasional MNC (Multi National Corparation). Kiat dan kebijakan MNC yang terjabarkan di sini mengalami akumulasi gerakan secara mondial karena kemajuan dalam bidang teknologi, khususnya teknologi informasi. Analisa economic oriented ini sesungguhnya terbungkus dalam analisa secara politik dan sosiologis. Walau ada kesan dominasi analisa ekonomi yang begitu besar sehingga agaknya kurang layak menjajarkan dalam parade pemikirannya dengan John L. Espositi dan Samuel Huntington. 

Point penting dalam analisa John Naisbitt adalah universalisme vs tribalisme (kesukuan). Dalam pandangannya, tribalisme adalah kepercayaan akan kesetiaan pada sesama jenisnya sendiri yang didefinisikan oleh etnistas, bahasa, budaya, agama atau pada akhir abad ke-20 ini, profesi. Ia katakan, “akan tetapi, jika anda seorang Muslim Bosnia yang berbahaya anda adalah seorang Muslim yang tertindas”. Dalam ordo universalisme, globalisme menjadi acuan. Ia katanya, bergerak dari pencanggihan teknologi komunikasi, globalisasi, ekonomi, pemapanan budaya pop Amerika (American pop Culture), merajalelanya MNC dan menstukturnya jargon politik Barat: demokrasi. Acuan ordo universalisme ini melemahkan dan bahkan menghancurkan Negara-bangsa (nation-state) yang sudah berada dan mapan itu, dan menciptakan nagara-suku (etno-state).

Melihat analisa John Naisbitt, Huntington mengusung paradigma baru pasca perang dingin: pertarungan peradaban (civilization). Peradaban dalam kosakata Huntington berarti kesatuan kebudayaan. Ia merupakan pengelompokan individu dalam tingkat budaya yang tertinggi dan level identitas individu yang paling luas, yang membedakan antara satu individu dengan individu yang paling luas, yang membedakan antara satu individu dengan individu lainnya. Pertarungan ini terjadi karena peradaban berbeda dalam sejarah, bahasa, budaya, tradisi dan yang paling penting agama. Dalam pertarungan peradaban uni Huntington menyebut tujuh peradaban yang akan menjadi peserta: peradaban barat, konfusian, Japan, Islam, Hindusm Slavia-Orthodoks, Amerika Latin dan Afrika. 

Pertarungan peradaban, bagi Huntington, disebabkan beberapa gerakan gelombang besar. Pertama. Perbedaan antar peradaban karena latar belakang sejarah, bahasa, budaya, tradisi dan agama. Kedua, dunia semakin menjadi wadah yang semakin kecil. Interaksi antara individu yang berlatar peradaban yang berbeda semakin besar dan menyebabkan semakin tinggi tingkat kesadaaran dan penyadaran peradaban, antar peradaban dan keidentikan dalam peradaban individu itu sendiri. Ketiga, proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial di seluruh dunia memisahkan identitas lokal sebuah masyarakat. Keempat, tumbuhnya kesadaran peradaban akibat kebangkrutan Barat. Lima, karakter dan perbedaan budaya semakin mengkristal, non pembauran dan tidak dipilah-pilih dibandingkan dalam bidang ekonomi dan politik. Terakhir, semakin meningkatnya kerjasama ekonomi regional. 

Dibandingkan kedua pemikir Barat di atas, Esposito mengambil jalan yang agak lain melihat perubahan pasca perang dingin ini. Analisanya bahwa Islam dan Barat mempunyai perbedaan-perbedaan yang sebenarnya dapat dijembatani. Islam mempunyai wawasan sejarah dan peradaban yang berbeda dengan apa yang di Barat. Perbedaan ini sering dilupakan banyak pihak yang memegang tampuk pengambilan keputusan (decision maker). Akibatnya keputusan yang diambil mensimpulkan bahwa pasca perang dingin adalah Islam versus Barat. Ini hanya karena salah mengambil kesimpulan. Esposito katakan, “kecenderungan untuk menghakimi tindakan kaum Muslimin secara isolatif, menggeneralisasi tindakan pihak-pihak tertentu, sebagai tindakan keseluruhan, menyepelekan ekses-ekses sejenis yang dilakukan atas nama agama-agama dan ideology-ideologi lain, juga bukanlah hal baru”.

Dalam tulisannya di buku The Islamic Thereat:Myth or Reality?, ia mengutip pernyataan Maxim Rodinson yang membandingkan hubungan historis yang terpolarisasi anatara Nashrani dan Islam dengan persaingan yang berlangsung baru-baru ini di seantero dunia antara kapitalisme dan sosialisme. Rodinson berkata, “dari perspektif politik dan ideologis, jika seseorang memperbandingkan sikap agama Nasharani terhadap Islam dengan sikap kapitalisme Barat terhadap komunisme dewasa ini, maka dengan jelas terlihat kesamaannya. Pada masing-masing pengelompokan, kedua sistem itu saling terasing satu dengan yang lainnya; sementara dalam setiap sistem itu, ideologi dominan yang tunggal menyaratakan faksi-faksi yang berbeda dan bermusuhan dalam satu kategori”. 

Mempertimbangkan proposisi-proposisi para pemikir Barat di atas, terlihat bahwa John Naisbitt lebih cenderung menempatkan strategi Barat (strategi ekonomi, politik, budaya) untuk penetrasi atas dunia non Barat dalam konsep tribalisme dan globalisasi serupa dengan konsep kolonialisme devide et impera. Pola pemikiran John Naisbitt dalam tingkat kebijakan dan penerapan politik Barat serupa dengan proposisi Samuel Huntington. Ia menetapkan kerangkan pertarungan dalam tatanan hubungan antar peradaban dari pada tatanan kerjasama dan kemitraan. 

Oleh sebab itu, konsep tribalisme atau pertarungan peradaban dalam esensinya mengarah pada satu sasaran utama: dunia Islam. Dalam proposisi Huntington, menurut the Economist (edisi 6/9/94), hanya tiga peradaban yang benar-benar saling bertarung: Barat, Islam dan Konfusian. Dalam proposisinya, Huntington memperingatkan Barat akan kemungkinan jalinan Islam-Konfusian, khususnya pengaligan teknologi, meliter. Namun secara tersirat, proposisi ini memeritahkan pemerintah Barat untuk merangkul peradaban Konfusianisme, originalitas kelahiran sebuah ideologi belum pernah terjadi. Ia hanya mempunyai kekuatan di sektor-sektor utama tertentu dalam masyarakat. Dengan demikian, sebenaranya pertarungan peradaban atau terjadinya tribalisme itu pada dasarnya menghadapkan Islam dengan barat.

Dalam konsepsi pertarungan dan tribalisme di atas, motif secara ekonomi menonjol karena dunia Islam mempunyai kekayaan alam dan penduduk yang disertai dengan letak geografis yang sangat strategis. 

Gelombang serangan Barat dalam pertarungan ini berputar dari serangan ideologi hingga penguasaan wilayah umat Islam. Pertama, Barat mengerakan peradaban pagan (Hindu, Budha, Kunfusian). Pertarungan abadi di Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur akan terus bergejolak. Dengan korban pertarungan itu hanya ada satu nama: mereka menyandang nama Muslim.
Kedua, Barat menggunakan gereja. Banyak peristiwa besar di Afrika dan Asia mengisyaratkan pertarungan itu.
Ketiga, elite politik Negara-negara Islam didukung untuk bertindak represif dan brutal atas nama nation building.
Keempat, Barat memperlakukan minoritas Muslim dengan berbagai cara yan tidak sesuai dengan nilai-nilai Barat sendiri.

Setelah berbagai serangan tertanam, langkah tribalisme Barat atas nama dunia Islam akhirnya menciptakan Negara Islam baru atau dan menciptakann Negara Islam baru atau menciptakan budaya Islam  lokal yang terpisah dari budaya Islam lokal yang terpisah dari budaya Islam yang hakiki. Keduanya bertopang pada suku, bahasa, budaya, dan agama Islam yang dibumikan. Dengan demikian, proposisi kedua pemikir Barat ini pada realitas teori dan praktek telah menjadi acuan. Dalam langkah selajutnya, penetrasi barat atas Islam melalui, menurut Naisbitt, ekonomi, budaya Pop Amerika, pencitaan akhlaq Internasional baru dan pariwisata.

Esposito tidak menyukai keadaan di atas. Walau ada kemungkinan konflik antara Islam dan Barat, ia lebih memakai pendekatan kerjasama antar-peradaban. Gerakan Islam marak, menurut Esposito, sebagai reaksi dan respon atas imperialism Barat, melalui dominasi politik dan budaya.

Imperialisme Barat menyemai ide-ide Barat yang sangat asing dan tidak dikenal dalam Umat Islam itu sendiri. Ide kebangsaan, ideologi materialism, sekulerisme Negara, sistem pemerintahan, sistem parlemen, sistem hukum, persamaan hak dan kewajiban bagi seluruh warga Negara, demokrasi dan ide-ide lainnya menyingkirkan konsepsi yang termaktub dalam Al-Qur’an dan As Sunnah: prinsip kekuasaan Allah, Kekhalifahan, sistem syura, hukum hudud, hukum perkawinan, sistem pemerintahan Islam, sistem budaya dan lain-lainya. 

Konsespsi Islam di Negara-negara Islam memperlihatkan kesamaan dan analogis satu dengan yang lainnya. Negara-negara itu semua berada dalam satu kekhilafahan dengan segala sistem kekhilafan Allah (Allah, Rasul dan Al-Qur’an). Sebaiknya pula, konsepsi ini, bagi Esposito, juga merupakan ancaman dan tantangan Barat. Ia katakan, “Islam juga merupakan ancaman terhadap rasa puas diri masyarakat Barat secara spiritual, sosial, politis, materialism, liberalism, individualism, toleransi, dan kebebasan ekspresi”.

Serangan tribalisme dan pertarungan peradaban, dalam proposisi Naisbitt dan Huntington, dalam kerangka konsepsi Eksposito adalah pertikaian dan peperangan dalam skala global dan dalam waktu yang lama. Konsepsi penciptaan Negara Islam baru dan Ideologi budaya Islam lokal baru, dalam kerangka proposisi di atas, sama saja dengan memilah dan mengotak-kotakan kekhalifahan islam dalam Negara yang beresistensi akut dan mudah diserang. Dengan demikian, dialog dan Barat sudah berhenti pada titik ini. Dialoh sudah tertutup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar