Kajian

Senin, 23 Juli 2012

Ringkasan Dialog Kritikan Atas Faham dan Gearakan "Pembaharuan" Drs. Nurcholish Madjid

Kata Pengantar

Sejak  awal tujuh puluhan telah tumbuh di kalangan generasi muda Islam suatu faham dan gagasan yang kenal dengan sebutan “Pembaharuan”. Persoalan tajdid atau “pembahuruan” akan di uji dalam sejarah akan datang. Namun, “pembaharuan” ajaran Islam disesuaikan pada kondisi zaman menimbulkan kontroversi dan mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan masyarakat. Bahkan, Prof.Dr.H. Rasjidi mulai melakukan kecaman kepada trio pembaharuan Islam diantaranya Nurcholish Madjid, Munawir Sjadzali dan Abdurahman Wahid. Ketika itu mereka sepulang menimba Ilmu Pengetahuan di dunia barat langsung berbeda pemahaman Islam sebelumnya, maka salah satu tokoh Islam dari Bandung yang peduli terhadap keselamatan generasi muda Islam di Indonesia Drs.H. Endang Saifuddin Anshary, M.A. mencoba angkat pena menanggapi sekulerisasi di Indonesia yang di usung oleh Nurcholish Madjid Sc didalam buku terbitan Bulan Sabit Bandung tahun 1973, berjudul Kritikan Atas Faham dan Gerakan “Pembaharuan” Drs. Nurcholis Madjid berikut penuturan ringkasan wawancaranya.

Agama=Akherat

H.Irfan Malik : Dari tulisan Sdr. Nurcholish, antara lain yang dimuat dalam ARENA, terlihat kecenderungan untuk menyamakan Agama dengan Ukhrawi atau Akherat. Bagaiman pendapat anda sendiri?

Endang Saifuddin Anshary : Pandangan Sdr. Nur tentang Agama dan dunia lebih kurang dapat disimpulkan sebagai berikut: Hari Agama adalah Hari Akherat. Oleh kerena itu: Agama=Akherat. Dalilnya? Terdapat dalam Al-Qur’an pertama surah Al-Fatihah; Maliki Yaumi d’Din, pemilik hari akherat. Kedua Surat Al-Infithah (LXXXII:17-19): Wa ma adraka ma Yaumu ‘d-Din? “Tahukah kamu Hari Agama? Sekali lagi tahukah kamu, apa itu hari Agama? Yaitu hari ketika tidak ada seorangpun dapat berbuat sesuatu untuk orang lain, dan segala urusan pada waktu itu di Tangan Tuhan semata-mata”. Oleh masalah akherat itu wewenang Agama, sedangkan pengetahuan. Dalilnya? Hadist Nabi: Antum a’-lamu bi Umuri Dunyakum!-kamu lebih mengetahui urusan Dunia-mu! Begitu kira-kira pendapat Sdr. Nurcholish.

Tentu saja saya tidak dapat menerimanya. Bahwa Yaumu’d-Din adalah Yaumu ‘I-Akherat, itu sudah jelas. Akan tetapi tidak dapat lantas membuat aljabar: Hari Din=Hari Akherat, oleh karena itu: Din=Akherat. Sebagaimana kita tidak dapat menerima aljabar: Hari Proklamasi=Hari Kemerdekaan, oleh karena itu: Proklamasi=Kamerdekaan. Contoh lain: Rumah Sakit=Rumah Pengobatan, oleh karena itu: Sakit=Pengobatan. Disamping itu din dalam Yaumu ‘d-din, menurut jumhur para musafasirin berari : Jasa, balasan, jadi bukan Dinu’I-Islam  yang berarti ; Wahyun Ilahiyyun Saiqun Li Dzawi ‘I-Uquli bi’khtiyarihim iyahu lil sa’adatihim Dunya-hum wa Ukhrahum: Wahyu Illahi yang membawa kebahagian di Dunia dan di Akherat bagi siapa saja yang berpegang kepadanya! Selanjutnya: Sumber norma dan nilai dalan Islam ialah Al-Qur’an dan as-Sunnah. Al-Qur’an dan As-Sunnah (Sumber Din/Agama Islam) itu adalah Hudan atau Hidayatan, petunjuk, bimbingan, pimpinan, asuhan, tuntunan buat manusia di dunia ini (jadi bukan di akherat nanti!) untuk mencapai : kebahagian di dunia dan di akherat (fi ‘d-Dunya Hasanah, wa fi’I-Akhirati Hasanah).

Adapaun sejarah lahirnya pernyataan Nabi: Antum a’lamu bi Umuri Dunya-kum itu, ialah mengenai pencakokan tumbuh-tumbuhan, yang memang tidak diatur, baik oleh Al-Qur’an maupun As-Sunnah, jadi tafsiran daripada hadist Nabi termaksud ialah: “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu” , sepanjang tentang masalah itu memang tidak pernah diatur di dalam Agama (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Adapun mengenai masalah Dunia yang jelas-jelas ada kaidahnya dalam Agama, kamu tidak boleh seenaknya menganggapnya sebagai tidak ada, sebagai tidak berlaku, sebagai yang tidak patut diindahkan sama sekali.

Jadi tegasnya: Agama (Islam) itu bukan Akherat atau Ukhrawi saja, melainkan Dunia dan Akherat, dunyawi dan Ukhrawi. Inilah masalah yang paling fundamental sekali yang harus didudukan, karena dari fundamen pendapat keliru bahwa Agama=Akherat inilah, Sdr Nurcholish menjabarkannya dalam berbagai corak dan bentuk dibawah panji-panji sekulerisasi.

“Negara Islam”, Piagam Jakarta dan Pancasila.

H.Irfan Malik: “Kita tidak perlu merasa berdosa bila menanggakan cita-cita Negara Islam dan Ajaran Islam”, kata Sdr. Nurcholish Madjid,” yang selama ini dianggap seolah-olah merupakan perintah Islam”. Pendapat anda sendiri?

Endang Saifuddin Anshary : Dapat saja dia berkata begitu. Akan tetapi kita harus merasa berdosa dengan sadar menanggalkan Islam itu sendiri dari qalbu individu dan masyarkat umat islam. Syaikh Hassan al-Hudhaibi pernah berkata: Aqim Daulata ‘I-Iman fi Qulubi-kum sa taqum fi Biladikum (Tegakkanlah kedaulatan Iman di dalam qalbumu, niscaya dia bakal tegak di persada negerimu).

Kepada Sdr. Sunarja Hamid dari Majalah TEMPO juga telah saya sampaikan: masalah Islam sebagai Dasar Negara adalah sudah selesai dan merupakan masa-lampau, Piagam Jakarata sudah “terlanjur” terpahat dalam sejarah sebagai sesuatu yang mempunyai hubungan historis, Ideal dan spiritual dengan pancasila, Dasar Negara kita: dan hal ini tidak bakal dapat dihapus atau dikikis dengan kekuatan apapun: dan hal inipun sudah selesai. Saya tidak habis heran, masalah yang bagi banyak orang sudah lama selesai, rupanya bagi para “pembaharu” selalu baharu, tak kunjung selesai-selesai. Saya kepingin tahu, motif apa benar yang mendorong mereka untuk selalu mengada-ada seperti itu.

Penutup

Demikianlah, pemaparan-ringkasan buku Kritikan Atas Faham dan Gerakan “Pembaharuan” Drs. Nurcholish Madjid pada percakapan wartawan Panji Masyarakat saudara H. Irfan Malik Hamka dengan Drs.H. Endang Saifuddin Anshary, M.A menganai (Agama=Akherat, “Negara Islam”, Piagam Jakarta dan Pancasila.). membuktikan bahwa dalam perbedaan atau ketidaksepakatan dalam pemikiran seseorang hendaklah dibicarakan secara elegan. Pandangan Ideologi boleh berbeda tetapi hendak dijaga agar tidak ditanamkan rasa kebencian, permusuhan dan dendam kusumat. Mengutip dari motto K.H. Isa Anshary, kita hadapi aliran dan keyakinan itu secara Rizal, secara laki-laki. Kita hadapi keyakinan dengan keyakinan. Kita adu faham dengan faham. Kita pertentangkan Ideologi dengan Ideologi. Kita kemukakan keyakinan kita secara nyata di atas teriknya sinar matahari. Itulah epos pejuang Islam sejati

Wa’l-Lahu A’lam bi’s-Shawab.


                                                                                                                                                                                             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar