Ringkasan Dialog Kritikan Atas Faham dan Gearakan "Pembaharuan" Drs. Nurcholish Madjid
Kata Pengantar
Sejak awal tujuh puluhan telah tumbuh di kalangan
generasi muda Islam suatu faham dan gagasan yang kenal dengan sebutan
“Pembaharuan”. Persoalan tajdid atau “pembahuruan”
akan di uji dalam sejarah akan datang. Namun, “pembaharuan” ajaran Islam
disesuaikan pada kondisi zaman menimbulkan kontroversi dan mendapatkan
perhatian dari berbagai kalangan masyarakat. Bahkan, Prof.Dr.H. Rasjidi mulai
melakukan kecaman kepada trio pembaharuan Islam diantaranya Nurcholish Madjid,
Munawir Sjadzali dan Abdurahman Wahid. Ketika itu mereka sepulang menimba Ilmu
Pengetahuan di dunia barat langsung berbeda pemahaman Islam sebelumnya, maka
salah satu tokoh Islam dari Bandung yang peduli terhadap keselamatan generasi
muda Islam di Indonesia Drs.H. Endang Saifuddin Anshary, M.A. mencoba angkat
pena menanggapi sekulerisasi di Indonesia yang di usung oleh Nurcholish Madjid
Sc didalam buku terbitan Bulan Sabit Bandung tahun 1973, berjudul Kritikan Atas
Faham dan Gerakan “Pembaharuan” Drs. Nurcholis Madjid berikut penuturan
ringkasan wawancaranya.
Agama=Akherat
H.Irfan
Malik : Dari tulisan Sdr. Nurcholish, antara lain yang dimuat dalam ARENA,
terlihat kecenderungan untuk menyamakan Agama dengan Ukhrawi atau Akherat.
Bagaiman pendapat anda sendiri?
Endang
Saifuddin Anshary : Pandangan Sdr. Nur tentang Agama dan dunia lebih kurang
dapat disimpulkan sebagai berikut: Hari Agama adalah Hari Akherat. Oleh kerena
itu: Agama=Akherat. Dalilnya? Terdapat dalam Al-Qur’an pertama surah
Al-Fatihah; Maliki Yaumi d’Din,
pemilik hari akherat. Kedua Surat Al-Infithah (LXXXII:17-19): Wa ma adraka ma Yaumu ‘d-Din? “Tahukah
kamu Hari Agama? Sekali lagi tahukah kamu, apa itu hari Agama? Yaitu hari
ketika tidak ada seorangpun dapat berbuat sesuatu untuk orang lain, dan segala
urusan pada waktu itu di Tangan Tuhan semata-mata”. Oleh masalah akherat itu
wewenang Agama, sedangkan pengetahuan. Dalilnya? Hadist Nabi: Antum a’-lamu bi Umuri Dunyakum!-kamu
lebih mengetahui urusan Dunia-mu! Begitu kira-kira pendapat Sdr. Nurcholish.
Tentu saja
saya tidak dapat menerimanya. Bahwa Yaumu’d-Din
adalah Yaumu ‘I-Akherat, itu sudah
jelas. Akan tetapi tidak dapat lantas membuat aljabar: Hari Din=Hari Akherat,
oleh karena itu: Din=Akherat. Sebagaimana kita tidak dapat menerima aljabar:
Hari Proklamasi=Hari Kemerdekaan, oleh karena itu: Proklamasi=Kamerdekaan.
Contoh lain: Rumah Sakit=Rumah Pengobatan, oleh karena itu: Sakit=Pengobatan.
Disamping itu din dalam Yaumu ‘d-din,
menurut jumhur para musafasirin berari : Jasa,
balasan, jadi bukan Dinu’I-Islam
yang berarti ; Wahyun Ilahiyyun
Saiqun Li Dzawi ‘I-Uquli bi’khtiyarihim iyahu lil sa’adatihim Dunya-hum wa
Ukhrahum: Wahyu Illahi yang membawa kebahagian di Dunia dan di Akherat bagi
siapa saja yang berpegang kepadanya! Selanjutnya: Sumber norma dan nilai dalan
Islam ialah Al-Qur’an dan as-Sunnah. Al-Qur’an dan As-Sunnah (Sumber Din/Agama
Islam) itu adalah Hudan atau Hidayatan, petunjuk, bimbingan,
pimpinan, asuhan, tuntunan buat manusia di dunia ini (jadi bukan di akherat
nanti!) untuk mencapai : kebahagian di dunia dan di akherat (fi ‘d-Dunya Hasanah, wa fi’I-Akhirati
Hasanah).
Adapaun
sejarah lahirnya pernyataan Nabi: Antum
a’lamu bi Umuri Dunya-kum itu, ialah mengenai pencakokan tumbuh-tumbuhan,
yang memang tidak diatur, baik oleh Al-Qur’an maupun As-Sunnah, jadi tafsiran
daripada hadist Nabi termaksud ialah: “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu” ,
sepanjang tentang masalah itu memang tidak pernah diatur di dalam Agama
(Al-Qur’an dan As-Sunnah). Adapun mengenai masalah Dunia yang jelas-jelas ada
kaidahnya dalam Agama, kamu tidak boleh seenaknya menganggapnya sebagai tidak
ada, sebagai tidak berlaku, sebagai yang tidak patut diindahkan sama sekali.
Jadi
tegasnya: Agama (Islam) itu bukan Akherat atau Ukhrawi saja, melainkan Dunia
dan Akherat, dunyawi dan Ukhrawi. Inilah masalah yang paling fundamental sekali
yang harus didudukan, karena dari fundamen pendapat keliru bahwa Agama=Akherat inilah, Sdr Nurcholish menjabarkannya
dalam berbagai corak dan bentuk dibawah panji-panji sekulerisasi.
“Negara Islam”, Piagam Jakarta dan Pancasila.
H.Irfan
Malik: “Kita tidak perlu merasa berdosa bila menanggakan cita-cita Negara Islam
dan Ajaran Islam”, kata Sdr. Nurcholish Madjid,” yang selama ini dianggap
seolah-olah merupakan perintah Islam”. Pendapat anda sendiri?
Endang
Saifuddin Anshary : Dapat saja dia berkata begitu. Akan tetapi kita harus
merasa berdosa dengan sadar menanggalkan Islam itu sendiri dari qalbu individu
dan masyarkat umat islam. Syaikh Hassan al-Hudhaibi pernah berkata: Aqim
Daulata ‘I-Iman fi Qulubi-kum sa taqum fi
Biladikum (Tegakkanlah kedaulatan Iman di dalam qalbumu, niscaya dia bakal
tegak di persada negerimu).
Kepada Sdr.
Sunarja Hamid dari Majalah TEMPO juga telah saya sampaikan: masalah Islam
sebagai Dasar Negara adalah sudah selesai dan merupakan masa-lampau, Piagam Jakarata
sudah “terlanjur” terpahat dalam sejarah sebagai sesuatu yang mempunyai
hubungan historis, Ideal dan spiritual dengan pancasila, Dasar Negara kita: dan
hal ini tidak bakal dapat dihapus atau dikikis dengan kekuatan apapun: dan hal
inipun sudah selesai. Saya tidak habis heran, masalah yang bagi banyak orang
sudah lama selesai, rupanya bagi para “pembaharu” selalu baharu, tak kunjung
selesai-selesai. Saya kepingin tahu, motif apa benar yang mendorong mereka
untuk selalu mengada-ada seperti itu.
Penutup
Demikianlah,
pemaparan-ringkasan buku Kritikan Atas Faham dan Gerakan “Pembaharuan” Drs. Nurcholish
Madjid pada percakapan wartawan Panji Masyarakat saudara H. Irfan Malik Hamka
dengan Drs.H. Endang Saifuddin Anshary, M.A menganai (Agama=Akherat,
“Negara Islam”, Piagam Jakarta dan Pancasila.). membuktikan bahwa dalam perbedaan atau ketidaksepakatan dalam pemikiran
seseorang hendaklah dibicarakan secara elegan. Pandangan Ideologi boleh berbeda
tetapi hendak dijaga agar tidak ditanamkan rasa kebencian, permusuhan dan
dendam kusumat. Mengutip dari motto K.H. Isa Anshary, kita hadapi aliran dan
keyakinan itu secara Rizal, secara laki-laki. Kita hadapi keyakinan dengan
keyakinan. Kita adu faham dengan faham. Kita pertentangkan Ideologi dengan
Ideologi. Kita kemukakan keyakinan kita secara nyata di atas teriknya sinar
matahari. Itulah epos pejuang Islam sejati.
Wa’l-Lahu A’lam bi’s-Shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar