Kajian

Rabu, 25 Juli 2012

Sepintas Jejak Sepilis di Indonesia

Oleh ZHILAL ISLAM

Orang-orang yang turut menyebarkan paham dalam masyarakat yang akan menegakkan kendornya rasa perjoangan, rasa jihad menegakkan cita Islam, bukan saja menjadi pelopor membawa ke jalan kafir, bahkan itulah pengkhianat-pengkhianat yang membawa nama Islam untuk menghancurkan kekuatan Islam.”[1]

Itulah kalimat peringatan yang tegas sekali bunyinya dari seorang ulama Indonesia, Buya Hamka. Peringatan ini ia lontarkan, untuk mengingatkan para pemuda untuk menentang dengan tegak segala macam isme-isme (paham) baru yang diimpor dari Barat, untuk menyebarkan rasa keragu-raguan atau melemahkan iman dalam Islam.

Tulisa-tulisan semacam ini digoreskan oleh Buya Hamka dalam periode selepas orde lama. Dari akhir tahun 1960 sampai 1970an. Analisis Buya Hamka memang tidak salah. Ia menandaskan pemuda-pemuda Islam, yang justru menjual agamanya itu, ditandai dengan penyakit rendah diri. Menurutnya pemuda-pemuda itu, “…mentang-mentang sudah dibawa orang bergaul dalam masyarakat yang agak ‘barat’ sifatnya, dia belum merasa progressif kalau belum turut bersorak mengatakan bahwa Islam, harus pandai menyesuaikan diri kalau mau maju.”[2]

Tepat sekali pengamatan beliau. Bahkan hingga saat ini, betapa banyak saat ini pemuda-pemuda Islam, membawa-bawa nama Islam untuk menyebarkan paham-paham yang sebenarnya menghancurkan Islam. Mereka selalu menyandingkan nama Islam di depannya; Islam liberal, Islam inklusif, Islam progressif, dan lain-lain. Selalu yang mereka dengungkan, bertujuan demi kemajuan Islam. Namun kenyataannya, apa yang mereka perjuangkan selau bertolak belakang dari cita Islam. Alih-alih menengakkan, malah meruntuhkan. Paham yang diasongkan pemuda-pemuda itu pun, tak jauh-jauh dari sekularisme, liberalisme dan pluralisme. Menurut Buya Hamka orang-orang sekuler bukanlah orang yang mempunyai kesadaran agama. Agama bagi mereka hanyalah iseng belaka.

Lembaran sejarah mencatat, bukan hanya pada zaman transisi orde lama ke orde baru saja, paham-paham pemuda itu didengungkan. Soekarno pada tahun 1930-1940an beberapa kali menuliskan pengertiannya tentang Islam. “Islam is progress. Islam itu kemajuan,” katanya. Soekarno terang-terangan menyodorkan negara sekuler sebagai syarat kemajuan Islam. Diangkatnya Kemal Attaturk sebagai teladan.[3] Pendapat ini menuai kritik berbagai tokoh Islam, termasuk Mohammad Natsir. Mohammad Natsir yang menguasai, tidak saja literatur sarjana barat yang dipakai Soekarno, tetapi juga mengikuti buku berbahasa Arab, yang Soekarno hanya tahu judulnya saja, seperti buku Syekh Abdurrazik yang berjudul Al-Islam wa Usul-ul-Hukm. Polemik mereka di media massa hingga menjadi salah satu polemik yang pantas kita kenang. [4] Tulisan Soekarno yang terang benderang, membawa sekularisme berjubah pembaruan Islam ini, mendapat tentangan keras pula dari A. Hassan. Tulisan Soekarno berjudul ‘Me-muda-kan Pengertian Islam’, mengusung sekularisme Turki dan banyak mengutip pendapat intelektual sekuler Turki. Tulisan ini kemudian ditanggapi dengan tegas oleh A. Hassan, salah seorang tokoh Persatuan Islam. Menurutnya Soekarno dalam bicara masalah agama, tidak bisa hanya mengutip pendapat orang-orang dan memberi contoh kejadian di negara lain, tanpa mengetengahkan dalil. Ia menasehati, sebaiknya Soekarno jangan hanya mengekor dan mengambing. [5] Maka ditulislah tanggapan terhadap Soekarno itu dengan judul menyindir; ‘Membudakkan Pengertian Islam.’

Selepas orde lama, salah satu yang berkembang luas, adalah paham yang Buya Hamka sebut sebagai sinkritisme. Sinkritisme ala orde baru ini, ditandai ketika tahun 1968, Idul fitri jatuh berdekatan dengan hari raya Natal. Maka timbul berbagai perayaan Halal bi Halal dan Natal gabungan, yang diselenggarakan oleh pemerintah di departemen-departemen. Acara Lebaran-Natal ini biasanya diawali dengan pembacaan ayat Al Quran, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat Injil oleh pendeta atau pastor.[6] Acara ini dikecam oleh Buya Hamka, karena,”…kalau hal-hal seperti ini diadakan untuk toleransi, demi kesaktian Pancasila, atau demi mengamalkan dan mengamankan Pancasila, dengan sungguh-sungguh kita katakan bahwa, ini bukan toleransi, melainkan memaksa kedua belah pihak menjadi orang munafik, mengangguk-angguk menerima hal yang tak masuk diakal; dengan sengaja dan diatur, supaya membuktikan toleransi.”[7]

Mungkin inilah bibit-bibit, apa yang sekarang dinamakan pluralisme agama. Bagaimanapun sinkritisme sendiri bagian dari pluralisme agama.[8] Dan dilakukan demi sebuah toleransi agama yang dipaksakan. Konsekuensi dari penolakan acara semacam ini, bisa saja dituduh anti Pancasila dan tidak toleran, dan tidak menunjukkan kepribadian Indonesia. Buya Hamka membalas tuduhan tersebut dengan mengatakan, “Selama pena ini masih bisa menulis dan mulut Ini masih bisa berkata, kita katakan terus terang: Bukan begitu yang toleransi!” [9]

Buya Hamka menunjuk orang-orang yang menganjurkan doa bersama, atau perayaan Lebaran-Natal dan semacamnya, bukanlah orang-orang yang mempunyai kesadaran agama, ,melainkan orang-orang sekuler, yang bagi mereka masa bodoh, apakah Tuhan satu atau beranak, sebab bagi mereka agama itu hanya Iseng!
Pendukung sekularisme di Indonesia semakin mendapat angin segar tatkala pada awal tahun 1970an, Nurcholis Madjid menyampaikan pemikirannya yang berjudul ‘Keharusan Pembaharuan Pemikiran dalam Islam dan Masalah Integrasi Ummat.’[10]

Sebuah pemikiran yang mendorong kencang laju paham sekular. Nurcholis bahkan meloncat jauh, sehingga menyebut kalimat Tauhid sebagai sekularisasi besar-besaran. Dan menurutnya sekularisasi tidak sama dengan sekularisme. Pemakaian istilah yang serampangan ini dikritik keras tokoh Islam, HM Rasjidi. Beliau mengatakan, sikap Nurcholis yang semau gue mengartikan kata sekularisasi, menimbulkan konsekuensi yang semau gue pula. Rasjidi menyindir, kalau begitu bisa saja kata sekularisasi diganti dengan kata ‘pisang goreng’ atau ‘es jeruk’. Dan yang dimaksud ‘pisang goreng’ itu adalah mengesakan Tuhan dan menganggap benda-benda lain tak layak dipuja. Nurcholis juga menyebut kalimat Bismillah sebagai atas nama Tuhan. Dan memakai ayat Al Quran untuk menopang konsepnya. Sikap seperti ini sesungguhnya dapat kita lihat sebagai upaya Nurcholis untuk mencari pembenaran pahamnya dalam Islam. [11]

Kritik Rasjidi terhadap pemikiran sekular Cak Nur ini, malah menjadikannya semakin lantang. Pada 30 Oktober 1972 ia kembali mengetengahkan pemikirannya yang berjudul “Menyegarkan faham Keagamaan di Kalangan Ummat Islam Indonesia.” Salah satu yang kontroversial adalah pernyataannya, bahwa ‘gagasan’ Negara Islam adalah bentuk sikap apologetik, yaitu reaksi dari sikap rendah diri umat Islam.  Hal ini membuat Rasjidi kembali mengkritik pemikiran Nurcholis. Pernyataan-pernyataan Nurcholis, membuat Rasjidi, seorang doktor lulusan Sorbonne ini kecewa, dan beliau menyimpulkan, pemikiran Cak Nur, “…merupakan pikiran-pikiran orang yang belum matang dan tidak memenuhi syarat.” Ia kemudian menambahkan, “Terus terang, bahwa fikiran Drs. Nurcholis adalah berbahaya kepada ummat Islam Indonesia, karena fikiran-fikiran itu menuju kepada sekularisasi.” [12]

Apa daya, ternyata kritik Rasjidi dan tokoh lain bagai angin lalu. Nurcholis tetap melaju dengan sekularisasi dan berbagai pemikiran lainnya, diiringi tepuk tangan, dan berbagai gelar yang disematkan pada pemikirannya, seperti Neo Islam, Revolusi dan sebagainya.

Nurcholis Madjid memang menjadi salah satu inspirasi bagi pemikir sekluarisme, liberalisme dan pluralisme agama. Dalam buku yang dibuat untuk meneruskan pemikirannya, Bayang-bayang Fanatisisme: Esei-esei untuk Mengenang Nurcholish Madjid (2007), terdapat tulisan mengenai pluralisme, dengan mendompleng nama Buya Hamka. Tulisan berjudul Islam dan Pluralisme di Indonesia: Pandangan Sejarah, karya Ayang Utriza NWAY, memakai pendapat Buya Hamka dalam Tafsir Al Azharnya untuk menguatkan ide pluralisme agama. Namun pendapat Buya Hamka yang diambil tak utuh ini, menuai kritik dari Adian Husaini. Adian menilai Ayang Utriza sembrono dalam mengambil kesimpulan, sehingga seakan-akan Buya Hamka mendukung ide pluralisme dalam tulisan tersebut.[13] Padahal jika ditilik dalam Tafsir Al Azhar, Buya Hamka tidak menyimpulkan seperti pendapat Ayang Utriza. [14]

Dari pantauan sepintas lalu ini, kita bisa saksikan betapa isme-isme beracun ini telah mulai digaungkan sebelum negara ini berdiri. Berbagai tokoh ternama menghiasi warnanya. Sepak terjangnya begitu menggelisahkan. Bukan saja karena kritik-kritik yang berhamburan terhadap mereka, seperti angin lalu, namun dalam sepak terjangnya mereka selalu menggunakan beragam cara. Mulai dari kepandaian merangkai kata-kata Soekarno. Menghamburkan berbagai tuduhan bagi yang menentangnya, seperti yang ditolak oleh Buya Hamka. Kemudian mencari dalil-dalil yang dipaksakan dalam Islam, seperti yang dipertontonkan oleh Nurcholis Madjid. Hingga mendompleng nama ulama seperti yang digunakan Ayang Utriza.

Bagaimanapun beragam cara yang dipakai, meninggalkan kita pesan-pesan untuk menghadapinya. Umat Islam saat ini ditantang untuk tidak mudah tertipu permainan kata yang menawan. Kita juga dituntut untuk lebih mendalami Islam, agar tidak terperdaya dalil-dalil paksaan oleh para pengusung paham sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberalisme). Dan yang kalah penting adalah kemauan untuk menjaga, mewarisi, dan mendalami warisan lampau para ulama kita, agar kita bisa membongkar muslihat pengusung sepilis, tatkala mereka mendompleng nama ulama-ulama yang kita cintai itu.

Pesan-pesan ini harus terus menyebar diantara para pemuda yang mencintai Islam. Karena ditangan mereka, perjuangan akan diwariskan, sebagaimana amanah Buya Hamka, “Pengharapan untuk melanjutkan perjuangan mempertahankan aqidah ini terletak diatas bahu angkatan muda Islam. Pengalaman pahit yang telah ditempuh di zaman lampau meminta kepada kita tenaga muda bersemangat militan, yang didorong –ditunda (dimotivasi) oleh rasa cinta dan fanatik agama yang telah dipusakai nenek moyang sejak dating dari kampung dan desa.”[15]
Wallahualam.

Catatan Kaki:
1.    Hamka. Dari Hati ke Hati. Pustaka Panjimas Jakarta. 2002. Jakarta
2.    Ibid
3.    Ir. Soekarno.Islam Sontoloyo. Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Sega Arsy. 2009. Bandung. 
4.    Ajip Rosidi. M. Natsir. Sebuah Biografi. Jilid 1. Girimukti Pasaka. 1990. Jakarta.
5.    Pembaharuan faham Islam di Indonesia. Dialog Bung Karno – A. Hassan. Penerbit Sumber Ilmu. 1986. Yogyakarta.
6.    Hamka. Dari Hati ke Hati. Pustaka Panjimas Jakarta. 2002. Jakarta
7.    Ibid
8.    Dr. Anis Malik Thoha. Tren Pluralisme Agama. Tinjauan Kritis. Perspektif. 2005. Jakarta.
9.    Hamka. Dari Hati ke Hati. Pustaka Panjimas Jakarta. 2002. Jakarta
10.    Prof. Dr. HM Rasjidi. Koreksi Terhadap Drs Nurcholis Madjid Tentang Sekularisasi. Bulan Bintang. Jakarta.
11.    Ibid
12.    Ibid
13.    Kritik Adian Husaini terhadap Ayang Utriza dapat dibaca pada Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke-219, yang berjudul “Jangan Fitnah Buya Hamka” (28 Desember 2007). Artikel ini dimuat pertama kali di situs www.hidayatullah.com. Namun penulis tidak lagi mendapatkan tulisan yang dimaksud pada situs tersebut.
14.    Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar. Juz 1. Pustaka Panjimas. 2004. Jakarta.
15.    Hamka. Dari Hati ke Hati. Pustaka Panjimas Jakarta. 2002. Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar