Muballigin
dan Mudjahidin Islam, bersihkanlah agama dari bid’ah dan churafat!
Arahkanlah
usaha menuju terbentuknya kesatuan umat Islam!
Bentengilah
ideologi Islam dengan susunan perjuangan yang kuat dan kuasa!
Tegakkanlah
Uchuwwatul Islamiyah, persaudaraan Islam yang sejati!
Kembalilah
kepada Qur’an dan Hadist!
Duru ma’a kitabil
Lahi haj tsuma
Zaman Jaya Cuaca
Sepanjang
jalan sejarah Islam, dunia mengenal satu masa gemilang dalam kehidupan kaum
Muslimin. Zaman emas, zaman kejayaan dan kerajaan, dimana umat Islam sampai
kepuncak kemegahannya, hidup dibawah lindungan panji-kemenangn, dikagumi oleh
dunia sekeliling, disegani oleh orang kanan dan kiri.
Bagiku
qurun harum semerbak itu, bukanlah zaman Bagdad dan Cordova, tidak bertemu pada
masa Ummayaden Andalusia atau Abbasden Bagdad, seperti yang kerap didendangkan
oleh para penyiar, buah fantasi para pujangga………..
Zaman keemasan dalam perjalanan tarich, tidak lain adalah zaman Rasulullah SAW dan Chulafaurasidien.
Zaman keemasan dalam perjalanan tarich, tidak lain adalah zaman Rasulullah SAW dan Chulafaurasidien.
Zaman
itu telah sampailah sempurna kepuncak jaya dan raja, zaman dimana kaum Muslimin
dengan perbuatannya sendiri telah membentuk satu masyarakat keridaan Allah SWT,
masyarakat thaibah yang diliputi karunia dan ampunan Tuhan Semesta alam.
Zaman
itu adalah zaman keemasan dan kejayaan, dimana umat Islam berkehidupan luhur
dan terpuji, karena berpegang dan berpedoman kepada Qur’an dan Hadist. Jayanya
tidak karena gedung mahligai mencakar langit. Semerbaknya tidak, karena
bangunan-materi menjulang keudara, tidak karena hasil teknik arsitektur
menguasai seluruh alam dan susunan penghidupan.
Zaman
itu adalah zaman ketenangan dan kegiatan. Tenang, dimana umat manusia sujud
menyerah kepada Tuhan yang satu, tidak berserikat. Giat, dimana semua anggota
masyarakat berusaha dan bekerja menciptakan kemakmuran dan sejakterah bersama.
Ketenangan
dan kegiatan berjalin dalam susunan kehidupan, materi dan rohani
topang-menopang menurut bakat dan kodratnya sendiri.
Zaman
itu adalah zaman berpadunya tenaga dan usaha, pikiran dan perbuatan cita-cita
dan kenyataan. Dengan
rumusan filosofi zaman itu dapat digambarkan adalah zaman tegaknya tangga yang
menghubungkan bumi dan langit dalam susunan alam; tegap kuatnya jembatan yang
mempertalikan dunia dan akherat dalam ajaran agama; harmonisasinya kesatuan
antara jasmani dan rohani dalam susunan insan; seimbangnya antara upah dan
kerja dalam dunia usaha.
Zaman
itu ialah zaman Qur’an dan Hadist. Zaman ajaran agama tidak menjadi sengketa
dan pokok perselisihan, tetapi menjadi pengertian dan kethaatan, menjadi ilmu
dan perbuatan.
Zaman
itu adalah zaman yang langsung dibawah pimpinan Rasulullah dan pemimpin empat
seiring, Abu Bakr, Umar, Usman dan Ali. Itulah
zaman cuaca terang, zaman emas maha gemilang, yang harum semerbaknya kekal
berabad-abad. Zaman itu telah lalu dan ia akan tetap menjadi sejarah. Sejarah
zaman yang lampau, sejarah perjuangan dan perbuatan umat yang dahulu.
Zaman Lemah dan Kalah
Setelah
Rasulullah SAW dan Chulafaur Rasidien pulang ke rahmatullah, cahaya gemilang
itu berangsur suram. Bintang-bintang gemerlapan dilangit biru, satu demi
menghilang kebalik awan dan para musafir dipadang pasir hampir tiada menampak
alamat buat meneruskan perjalanannya.
Kematian
dan kelusuan hampir dalam segala lapangan menunjukan kenyataan. Hampir segenap
kemanusian jantungnya tidak berdetak lagi. Hampir
dalam segala lapangan, riwayat itu menurun tidak tertahan, karena kaum Muslimin
telah meninggalkan Al-Qur’an dan Hadist Nabi yang shahih.
Dalam
lapangan politik kenegaraan, sistem syuro diganti dengan sistem
raja-feodalisme, dimana pemerintahan otokrasi dan tirani berjalan semau-maunya. Dalam
lapangan ekonomi, tiada tampak lagi usaha hendak mengangkat derajat rakyat
banyak kepadang kemakmuran dan kesejakterahan, tanpa golongan kaya dan borjuis
telah sewenang-wenang memeras golongan rakyat banyak tanpa mendapat perbaikan
dan pemerintah Negara.
Dalam
lapangan sosial-kemasyarakatan, kembali manusia membanggakan keturunan menak
dan bangsawan darah, menepuk dada dengan pongahnya, bahwa golongan dan kasta
merakalah yang paling tinggi didunia yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi
“maha pemimpin” bagi manusia sekalian. Lihatlah
pula dalam lapangan agama dan ucapan ibadah! Tauhid telah dianggap syirik!
Ibadah telah dikotori oleh bermacam-macam bid’ah.
Ingin
menjadi kaya, hendak mendapat anak, mencari senang dan untung orang telah
meminta-minta kepada batu besar, kayu sakti, kuburan keramat, sujud menearap di
bawah si “Si Jagur” dan “Buah Batang”. Peribadahan agama telah dicampuri
berbagai kemodelan, bid’ah yang tidak berasal dari Nabi.
Taqlid
membuta-tuli telah “menjajah” kehidupan rohani umat Islam. Apa yang datang dari
sang Kyai dan tuanku Syech, diterima dengan tiada (tanpa) bandingan dan
penyelidikan. Pikiran
yang membeku dan menjumud, jiwa yang menyerahkan kepada taqdir dan menanti
taqdir datang dari langit tinggi. Dengan tidak berusaha dan bertenaga, telah
merata menjadi sikap umat Islam.
Bermacam-macam
tharekat tumbuh dengan suburnya, yang ajarannya bertentangan nyata dengan
sunnah Nabi, telah membawa umat Islam hanyut didalam banjir kesesatan dan
dlalalah. Pendeknya,
umat Islam telah berpisah jauh dengan Qur’an dan Hadist. Dalam keadaan yang
demikian itu, datanglah imprealisme barat menyerbu dunia timur (Islam) ialah memisahkan kaum Muslimin
dari ajaran dan hakikat Islam yang sebenarnya.
Maka
hilanglah tenaga dan kekuatan kaum Muslimin berhadapan dengan kekuasaan kaum
penjajah. Politik-isolasi, politik memisahkan umat Islam dari kewajiban
terhadap masyarakat. Sikap rohani umat Islam yang statis, pasif dan negatif,
telah menenggelamkan dunia Muslimin berabad-abad kedalam lembah penjajahan
kaum kafir.
Al
Ustadzul Imam Syech Muhammad Abduh. Maha guru yang terkenal itu dengan tangkas
mengatakan “Al Islamu mahdjubun bil Muslimin”. Cahaya kebenaran Islam yang
gilang-gemilang itu ditutupi oleh kelakuan dan perbuatan kaum Muslimin sendiri.
Pernyataan
diatas sangat tegas.Memanglah
demikian!
Lebih
jauh dalam kitabnya “Islam waraad ‘ala Muntaqidih’ alim besar itu berkata:
“Umat
Islam telah salah memahamkan arti tawaqal dan taqdir. Kesalahan itu telah
membawa mereka bersikap malas dan berdiam diri dengan tiada mau beramal.”
Akhirnya
mereka menyerah diri bulat-bulat kepada kemauan alam dan diombang-ambing oleh
gelombang keadaan, menunggu angin bertiup badai memecah ditepi pantai.
Kalau
angin tak datang, mereka diam tiada berdaya; mereka menyangka dengan sikap yang
demikian itu Tuhan telah ridla kepada mereka. Mereka mengira sikap yang
demikian itulah yang sesuai dengan ajaran agama mereka.
Umat
Islam telah keliru memahamkan maksud ayat dalam Al-Qur’an yang mengatakan,
bahwa umat Islam adalah sebaik-baiknya umat yang dibangkitkan untuk sebuah
kemanusian. Mereka menyangka gelaran ini akan melekat erat pada mereka
senantiasa, tidak boleh diganggu-gugat. Mereka berkeyakinan, bahwa derajat
tinggi itu akan melekat terus dengan memakai kalimah Islam, walaupun kehidupan
mereka jauh dari ajaran dan hakikat Islam yang sejati.
Mereka
berpendirian, bahwa Allah akan menolong mereka, walaupun mereka tidak beramal
dan berbuat, menyusun kekuatan dan menangkis bahaya dan bencana.
Jika
mereka ditimpa oleh malapetaka kesengsaraan yang hebat, sudah cukup mereka
terima dengan kata-kata qadla dan qadar untuk mengobati kegelisahan hati. Mereka
pun tidak segera mengambil sikap, bahkan tidak mempunyai sikap sedikitpun untuk
menyingkirkan segala sesuatu yang nyata-nyata melanggar Kitab dan Sunnah.
Umat
Islam telah salah memahamkan pengertian tha’at kepada Ulil Amri, pengertian
setia kepada pemerintahan dan arti takluk dibawah hukum negara. Kesalahan itu
telah menyebabkan bahwa segala sesuatu hendak mereka serahkan saja kepada
pimpinan negara. Mereka berserah diri, dan membiarkan negara hanya terpegang
ditangan pemerintah sepenuhnya.
Sesudah
menyerah, mereka lalu membelakang kepada pemerintah dan menyangka bahwa segala
sesuatu itu cukup dijalankan oleh pemerintah sendirinya, dalam segenap hal yang
mengenai masyarakat dan negara, baik yang mengenai peredaran suasana kenegaraan
maupun yang mengenal politik negara terhadap semuanya.
Mereka
seakan-akan tidak peduli dan acuh tak acuh selain hanya mereka tahu membayar
pajak yang diwajibkan atas mereka. Istilah
yang menimpa ummat Islam, disebabkan karena banyaknya pekerjaan bid’ah dalam
agama, kebid’ahan itu lantas berpengaruh kepada akal mereka, ideologi dan amal
perbuatan mereka.
Sehingga
mereka telah banyak sekali pengertian dan telah menyimpang dari tujuan pokok
agama yang sebenarnya. Pengertian mereka salah dan keliru, dan mereka jahil
dalam beberapa bagian bab dan fasal-fasal agama itu.
Merebut
kemenangan untuk kenyataan luhurnya kalimah Allah! Kembali Rasulullah SAW
berdiri didepan mata-hati kaum Muslimin, memberi komando disegala dan
perjuangan.
Tinggi
mengatas daripada kemuliaan raja-raja dunia dan kepada segala Negara, membuang
kemulian dan keutamaan Nabi Muhammad SAW ruh dan semangatnya bergetar dan
bergema dalam jiwa dan jantung umat Islam segenapnya.
Pendekar-pujangga
Islam maju kedepan dengan mengangkat tinggi bendera Islam dimedan pertemuan
segala manusia. Dan
sekalipun dalam perjuangan berebut keduniaan kadangkala hilang cahaya agama
akan tetapi sebagai kekuatan rohani. Lebih kuat nyawanya daripada segala
keduniaan ini dan sebagai bukti kenyataan, ialah yang akan berdiri kelak,
apabila segala kekeliruan telah membawakan sendiri bukti kesesatannya.
Inilah
pokok pikiran yang membesarkan hati dan budi perjuangan umat Islam sekarang
ini. Berapa pun riuh gemuruh sorak-sorai permuka dan pemimpin dunia memanggil
membelokan jarum hati dan haluan kemudi umat Islam akan tetaplah ke abadian
pimpinan laki-laki besar Muhammad SAW dalam dada dan jantung kaum Muslimin
dunia.
Laksana
batu karang ditengah lautan pancaroba, akan tetaplah tegak kepada umat Islam
dengan badai pengakuan, bahwa pimpinan Muhammad, berpegang dan berpedoman
kepada Qur’anul Karim itulah pimpinan yang maha sempurna, untuk segala bangsa
dan masa.
Muhammad
SAW maha pemimpin, meninggalkan keyakinan dan kepercayaan. Mewariskan cita-cita
dan tujuan hidup bagi kaum Muslimin. Keyakinan,
kepercayaan, kebenaran sempurna. Cita-cita dan tujuan hidup, yang mendarah
daging dalam seluruh tubuh kaum Muslimin, telah memberi daya dan tenaga maha
raksasa dalam menghadapi gelombang besar yang membanting dalam samudera
pergaulan segala bangsa.
Bentuk
keyakinan, kebangkitan idealisme, menentukan tujuan perjuangan, dalam meneruskan
garis Maha pemimpin Rasulullah SAW. Kecintaan
dan kesetiaan kepadanya, tinggi mengatas dari segenap hajat kebutuhan dalam
alam syahadat, karena ia berdasarkan surat nadi-iman yang menancap dalam bumi
jiwa manusia.
Bukan
fanatik bukan ta’asub, bukan ikutan membuta tuli, bukan sentiment, tetapi
kepercayaan, iman, keyakinan yang memastikan tegaknya perjuangan Muslimin, yang
tidak putus-putusnya. Erat-terikat dalam tangan genggeman pimpinan Nabinya,
Muhammad SAW.
Maka
ruh dan tenaga yang menghidupkan gerakan perubahan yang pada mulanya bergema
se-tempat-tempat, lambat laun gempita suara itu melintasi segala batas, gunung
dan samudera, diterima dan mendapat tempat yang subur dan makmur.
Demikianlah
senantiasi api yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, Ibnu Taimiyah,
Djamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridla, diberikan dan diterima
dari tangan ketangan, sinar itu memancarkan kesegala benua, menerangi lautan
dan daratan, diterima oleh jiwa dan pikiran yang hendak maju dalam pertempuran
segala keyakinan.
Historia
kebangkitan ummat Islam Indonesia, tidaklah akan melupakan jasa dan
pengorbanan para mujahidin yang telah
pulang keramatullah: Syech Ahmad Soorkaty Al Anshary, Dr.Fiddin H.A. Karim
Amrullah (Syech H. Rasul ayahanda Buya Hamka), Dr. Fiddin H. Abdul Ahmad, Syech
Muhammad Jamil Jambek, K.H. Ahmad Dahlan,
K.H. Fachruddien, Zainuddin Labai El Yunusy, dllnya.
Historia
kebangkitan dan gerakan Qur’an dan Hadist di Indonesia, sebagai sumber semangat
dan kehidupan jiwa perjuangan umat Islam, tidaklah akan melupakan jasa dari “Persatuan
Islam” Bandung dengan Pembela Islam-nya, yang telah memegang dan melakukan
peranan penting memerangi segala kesetatan bid’ah dan churafat di Indonesia.
Demi,
disat kita menghadapi pembangunan Negara dan pembinaan masyarakat baru seperti
sekarang ini, dengan segala keikhlasan hati dapatlah saja menyerukan dengan
perantaraan tulisan ini, kiranya Mujahid dan Mujadid Islam, alim ulama Islam,
generasi muda Islam, mendasarkan segala gerak perjuangannya kepada Qur’an dan
Hadist.
Marilah
kita sekalian menjadi pembela Islam dan penegak Hukum, marilah kita menjadi
pahlawan Sunnah, meneruskan perjuangan pada mujahid yang sudah dahulu pulang
meninggalkan kita. Marilah
kita hidupkan dan tegakkan hukum Islam dalam masyarakat! Marilah kita teruskan
jihad perjuangan yang sudah diteladankan oleh para Ulama sebelum kita!
Marilah
kita insafi, bahwa hanya dengan dasar Qur’an dan Hadist, barulah kita akan
mendapat kekuatan dan tenaga maha raksasa dalam perjuangan besar ini. Hanya
dengan Qur’an dan Hadist kita dapat membentengi ideologi Islam yang kini tengah
kita perjuangkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar