Kajian

Minggu, 05 Agustus 2012

Menegakkan Agama (III) Oleh: K.H. Isa Anshary

Muballigin dan Mudjahidin Islam, bersihkanlah agama dari bid’ah dan churafat!
Arahkanlah usaha menuju terbentuknya kesatuan umat Islam!
Bentengilah ideologi Islam dengan susunan perjuangan yang kuat dan kuasa!
Tegakkanlah Uchuwwatul Islamiyah, persaudaraan Islam yang sejati!
Kembalilah kepada Qur’an dan Hadist!
Duru ma’a kitabil Lahi haj tsuma 



Zaman Jaya Cuaca
Sepanjang jalan sejarah Islam, dunia mengenal satu masa gemilang dalam kehidupan kaum Muslimin. Zaman emas, zaman kejayaan dan kerajaan, dimana umat Islam sampai kepuncak kemegahannya, hidup dibawah lindungan panji-kemenangn, dikagumi oleh dunia sekeliling, disegani oleh orang kanan dan kiri. 

Bagiku qurun harum semerbak itu, bukanlah zaman Bagdad dan Cordova, tidak bertemu pada masa Ummayaden Andalusia atau Abbasden Bagdad, seperti yang kerap didendangkan oleh para penyiar, buah fantasi para pujangga………..

Zaman keemasan dalam perjalanan tarich, tidak lain adalah zaman Rasulullah SAW dan Chulafaurasidien. 

Zaman itu telah sampailah sempurna kepuncak  jaya dan raja, zaman dimana kaum Muslimin dengan perbuatannya sendiri telah membentuk satu masyarakat keridaan Allah SWT, masyarakat thaibah yang diliputi karunia dan ampunan Tuhan Semesta alam. 

Zaman itu adalah zaman keemasan dan kejayaan, dimana umat Islam berkehidupan luhur dan terpuji, karena berpegang dan berpedoman kepada Qur’an dan Hadist. Jayanya tidak karena gedung mahligai mencakar langit. Semerbaknya tidak, karena bangunan-materi menjulang keudara, tidak karena hasil teknik arsitektur menguasai seluruh alam dan susunan penghidupan. 

Zaman itu adalah zaman ketenangan dan kegiatan. Tenang, dimana umat manusia sujud menyerah kepada Tuhan yang satu, tidak berserikat. Giat, dimana semua anggota masyarakat berusaha dan bekerja menciptakan kemakmuran dan sejakterah bersama. 

Ketenangan dan kegiatan berjalin dalam susunan kehidupan, materi dan rohani topang-menopang menurut bakat dan kodratnya sendiri. 

Zaman itu adalah zaman berpadunya tenaga dan usaha, pikiran dan perbuatan cita-cita dan kenyataan. Dengan rumusan filosofi zaman itu dapat digambarkan adalah zaman tegaknya tangga yang menghubungkan bumi dan langit dalam susunan alam; tegap kuatnya jembatan yang mempertalikan dunia dan akherat dalam ajaran agama; harmonisasinya kesatuan antara jasmani dan rohani dalam susunan insan; seimbangnya antara upah dan kerja dalam dunia usaha. 

Zaman itu ialah zaman Qur’an dan Hadist. Zaman ajaran agama tidak menjadi sengketa dan pokok perselisihan, tetapi menjadi pengertian dan kethaatan, menjadi ilmu dan perbuatan. 

Zaman itu adalah zaman yang langsung dibawah pimpinan Rasulullah dan pemimpin empat seiring, Abu Bakr, Umar, Usman dan Ali. Itulah zaman cuaca terang, zaman emas maha gemilang, yang harum semerbaknya kekal berabad-abad. Zaman itu telah lalu dan ia akan tetap menjadi sejarah. Sejarah zaman yang lampau, sejarah perjuangan dan perbuatan umat yang dahulu.

Zaman Lemah dan Kalah

Setelah Rasulullah SAW dan Chulafaur Rasidien pulang ke rahmatullah, cahaya gemilang itu berangsur suram. Bintang-bintang gemerlapan dilangit biru, satu demi menghilang kebalik awan dan para musafir dipadang pasir hampir tiada menampak alamat buat meneruskan  perjalanannya. 

Kematian dan kelusuan hampir dalam segala lapangan menunjukan kenyataan. Hampir segenap kemanusian jantungnya tidak berdetak lagi. Hampir dalam segala lapangan, riwayat itu menurun tidak tertahan, karena kaum Muslimin telah meninggalkan Al-Qur’an dan Hadist Nabi yang shahih. 

Dalam lapangan politik kenegaraan, sistem syuro diganti dengan sistem raja-feodalisme, dimana pemerintahan otokrasi dan tirani berjalan semau-maunya. Dalam lapangan ekonomi, tiada tampak lagi usaha hendak mengangkat derajat rakyat banyak kepadang kemakmuran dan kesejakterahan, tanpa golongan kaya dan borjuis telah sewenang-wenang memeras golongan rakyat banyak tanpa mendapat perbaikan dan pemerintah Negara. 

Dalam lapangan sosial-kemasyarakatan, kembali manusia membanggakan keturunan menak dan bangsawan darah, menepuk dada dengan pongahnya, bahwa golongan dan kasta merakalah yang paling tinggi didunia yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi “maha pemimpin” bagi manusia sekalian. Lihatlah pula dalam lapangan agama dan ucapan ibadah! Tauhid telah dianggap syirik! Ibadah telah dikotori oleh bermacam-macam bid’ah. 

Ingin menjadi kaya, hendak mendapat anak, mencari senang dan untung orang telah meminta-minta kepada batu besar, kayu sakti, kuburan keramat, sujud menearap di bawah si “Si Jagur” dan “Buah Batang”. Peribadahan agama telah dicampuri berbagai kemodelan, bid’ah yang tidak berasal dari Nabi.

Taqlid membuta-tuli telah “menjajah” kehidupan rohani umat Islam. Apa yang datang dari sang Kyai dan tuanku Syech, diterima dengan tiada (tanpa) bandingan dan penyelidikan. Pikiran yang membeku dan menjumud, jiwa yang menyerahkan kepada taqdir dan menanti taqdir datang dari langit tinggi. Dengan tidak berusaha dan bertenaga, telah merata menjadi sikap umat Islam.

Bermacam-macam tharekat tumbuh dengan suburnya, yang ajarannya bertentangan nyata dengan sunnah Nabi, telah membawa umat Islam hanyut didalam banjir kesesatan dan dlalalah. Pendeknya, umat Islam telah berpisah jauh dengan Qur’an dan Hadist. Dalam keadaan yang demikian itu, datanglah imprealisme barat menyerbu dunia  timur (Islam) ialah memisahkan kaum Muslimin dari ajaran dan hakikat Islam yang sebenarnya. 

Maka hilanglah tenaga dan kekuatan kaum Muslimin berhadapan dengan kekuasaan kaum penjajah. Politik-isolasi, politik memisahkan umat Islam dari kewajiban terhadap masyarakat. Sikap rohani umat Islam yang statis, pasif dan negatif, telah menenggelamkan dunia Muslimin berabad-abad kedalam lembah penjajahan kaum kafir. 

Al Ustadzul Imam Syech Muhammad Abduh. Maha guru yang terkenal itu dengan tangkas mengatakan “Al Islamu mahdjubun bil Muslimin”. Cahaya kebenaran Islam yang gilang-gemilang itu ditutupi oleh kelakuan dan perbuatan kaum Muslimin sendiri.
Pernyataan diatas sangat tegas.Memanglah demikian!

Lebih jauh dalam kitabnya “Islam waraad ‘ala Muntaqidih’ alim besar itu berkata:

“Umat Islam telah salah memahamkan arti tawaqal dan taqdir. Kesalahan itu telah membawa mereka bersikap malas dan berdiam diri dengan tiada mau beramal.”

Akhirnya mereka menyerah diri bulat-bulat kepada kemauan alam dan diombang-ambing oleh gelombang keadaan, menunggu angin bertiup badai memecah ditepi pantai.

Kalau angin tak datang, mereka diam tiada berdaya; mereka menyangka dengan sikap yang demikian itu Tuhan telah ridla kepada mereka. Mereka mengira sikap yang demikian itulah yang sesuai dengan ajaran agama mereka.

Umat Islam telah keliru memahamkan maksud ayat dalam Al-Qur’an yang mengatakan, bahwa umat Islam adalah sebaik-baiknya umat yang dibangkitkan untuk sebuah kemanusian. Mereka menyangka gelaran ini akan melekat erat pada mereka senantiasa, tidak boleh diganggu-gugat. Mereka berkeyakinan, bahwa derajat tinggi itu akan melekat terus dengan memakai kalimah Islam, walaupun kehidupan mereka jauh dari ajaran dan hakikat Islam yang sejati. 

Mereka berpendirian, bahwa Allah akan menolong mereka, walaupun mereka tidak beramal dan berbuat, menyusun kekuatan dan menangkis bahaya dan bencana. 

Jika mereka ditimpa oleh malapetaka kesengsaraan yang hebat, sudah cukup mereka terima dengan kata-kata qadla dan qadar untuk mengobati kegelisahan hati. Mereka pun tidak segera mengambil sikap, bahkan tidak mempunyai sikap sedikitpun untuk menyingkirkan segala sesuatu yang nyata-nyata melanggar Kitab dan Sunnah. 

Umat Islam telah salah memahamkan pengertian tha’at kepada Ulil Amri, pengertian setia kepada pemerintahan dan arti takluk dibawah hukum negara. Kesalahan itu telah menyebabkan bahwa segala sesuatu hendak mereka serahkan saja kepada pimpinan negara. Mereka berserah diri, dan membiarkan negara hanya terpegang ditangan pemerintah sepenuhnya. 

Sesudah menyerah, mereka lalu membelakang kepada pemerintah dan menyangka bahwa segala sesuatu itu cukup dijalankan oleh pemerintah sendirinya, dalam segenap hal yang mengenai masyarakat dan negara, baik yang mengenai peredaran suasana kenegaraan maupun yang mengenal politik negara terhadap semuanya. 

Mereka seakan-akan tidak peduli dan acuh tak acuh selain hanya mereka tahu membayar pajak yang diwajibkan atas mereka. Istilah yang menimpa ummat Islam, disebabkan karena banyaknya pekerjaan bid’ah dalam agama, kebid’ahan itu lantas berpengaruh kepada akal mereka, ideologi dan amal perbuatan mereka. 

Sehingga mereka telah banyak sekali pengertian dan telah menyimpang dari tujuan pokok agama yang sebenarnya. Pengertian mereka salah dan keliru, dan mereka jahil dalam beberapa bagian bab dan fasal-fasal agama itu. 

Merebut kemenangan untuk kenyataan luhurnya kalimah Allah! Kembali Rasulullah SAW berdiri didepan mata-hati kaum Muslimin, memberi komando disegala dan perjuangan. 

Tinggi mengatas daripada kemuliaan raja-raja dunia dan kepada segala Negara, membuang kemulian dan keutamaan Nabi Muhammad SAW ruh dan semangatnya bergetar dan bergema dalam jiwa dan jantung umat Islam segenapnya. 

Pendekar-pujangga Islam maju kedepan dengan mengangkat tinggi bendera Islam dimedan pertemuan segala manusia. Dan sekalipun dalam perjuangan berebut keduniaan kadangkala hilang cahaya agama akan tetapi sebagai kekuatan rohani. Lebih kuat nyawanya daripada segala keduniaan ini dan sebagai bukti kenyataan, ialah yang akan berdiri kelak, apabila segala kekeliruan telah membawakan sendiri bukti kesesatannya. 

Inilah pokok pikiran yang membesarkan hati dan budi perjuangan umat Islam sekarang ini. Berapa pun riuh gemuruh sorak-sorai permuka dan pemimpin dunia memanggil membelokan jarum hati dan haluan kemudi umat Islam akan tetaplah ke abadian pimpinan laki-laki besar Muhammad SAW dalam dada dan jantung kaum Muslimin dunia. 

Laksana batu karang ditengah lautan pancaroba, akan tetaplah tegak kepada umat Islam dengan badai pengakuan, bahwa pimpinan Muhammad, berpegang dan berpedoman kepada Qur’anul Karim itulah pimpinan yang maha sempurna, untuk segala bangsa dan masa. 

Muhammad SAW maha pemimpin, meninggalkan keyakinan dan kepercayaan. Mewariskan cita-cita dan tujuan hidup bagi kaum Muslimin. Keyakinan, kepercayaan, kebenaran sempurna. Cita-cita dan tujuan hidup, yang mendarah daging dalam seluruh tubuh kaum Muslimin, telah memberi daya dan tenaga maha raksasa dalam menghadapi gelombang besar yang membanting dalam samudera pergaulan segala bangsa. 

Bentuk keyakinan, kebangkitan idealisme, menentukan tujuan perjuangan, dalam meneruskan garis Maha pemimpin Rasulullah SAW. Kecintaan dan kesetiaan kepadanya, tinggi mengatas dari segenap hajat kebutuhan dalam alam syahadat, karena ia berdasarkan surat nadi-iman yang menancap dalam bumi jiwa manusia.

Bukan fanatik bukan ta’asub, bukan ikutan membuta tuli, bukan sentiment, tetapi kepercayaan, iman, keyakinan yang memastikan tegaknya perjuangan Muslimin, yang tidak putus-putusnya. Erat-terikat dalam tangan genggeman pimpinan Nabinya, Muhammad SAW.

Maka ruh dan tenaga yang menghidupkan gerakan perubahan yang pada mulanya bergema se-tempat-tempat, lambat laun gempita suara itu melintasi segala batas, gunung dan samudera, diterima dan mendapat tempat yang subur dan makmur. 

Demikianlah senantiasi api yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, Ibnu Taimiyah, Djamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridla, diberikan dan diterima dari tangan ketangan, sinar itu memancarkan kesegala benua, menerangi lautan dan daratan, diterima oleh jiwa dan pikiran yang hendak maju dalam pertempuran segala keyakinan.

Historia kebangkitan ummat Islam Indonesia, tidaklah akan melupakan jasa dan pengorbanan  para mujahidin yang telah pulang keramatullah: Syech Ahmad Soorkaty Al Anshary, Dr.Fiddin H.A. Karim Amrullah (Syech H. Rasul ayahanda Buya Hamka), Dr. Fiddin H. Abdul Ahmad, Syech Muhammad Jamil Jambek, K.H. Ahmad Dahlan,  K.H. Fachruddien, Zainuddin Labai El Yunusy, dllnya. 

Historia kebangkitan dan gerakan Qur’an dan Hadist di Indonesia, sebagai sumber semangat dan kehidupan jiwa perjuangan umat Islam, tidaklah akan melupakan jasa dari “Persatuan Islam” Bandung dengan Pembela Islam-nya, yang telah memegang dan melakukan peranan penting memerangi segala kesetatan bid’ah dan churafat di Indonesia. 

Demi, disat kita menghadapi pembangunan Negara dan pembinaan masyarakat baru seperti sekarang ini, dengan segala keikhlasan hati dapatlah saja menyerukan dengan perantaraan tulisan ini, kiranya Mujahid dan Mujadid Islam, alim ulama Islam, generasi muda Islam, mendasarkan segala gerak perjuangannya kepada Qur’an dan Hadist. 

Marilah kita sekalian menjadi pembela Islam dan penegak Hukum, marilah kita menjadi pahlawan Sunnah, meneruskan perjuangan pada mujahid yang sudah dahulu pulang meninggalkan kita. Marilah kita hidupkan dan tegakkan hukum Islam dalam masyarakat! Marilah kita teruskan jihad perjuangan yang sudah diteladankan oleh para Ulama sebelum kita!

Marilah kita insafi, bahwa hanya dengan dasar Qur’an dan Hadist, barulah kita akan mendapat kekuatan dan tenaga maha raksasa dalam perjuangan besar ini. Hanya dengan Qur’an dan Hadist kita dapat membentengi ideologi Islam yang kini tengah kita perjuangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar