Deislamisasi
memang ada di Indonesia sekarang ini. Mengenai kapan mula pertama munculnya, Tidak
begitu jelas. Yang jelas perkembangan deislamisasi sekarang ini terasa makin
tajam. Sarana dan kegiatan dakwah Islamiyah boleh berkembang seluas-luasnya,
tetapi ideologi politik Islam Nampak ditekan dan tidak boleh berkembang.
Nilai-nilai dan istilah-istilah agama diusahakan hilang sehingga tidak ada
warnanya sama sekali.
Kebijasanaan
pemerintah sejak beberapa tahun terakhir ini membuktikan adanya deislamisasi
itu. Dan pertemuan antara pemerintah dengan Ulama beberapa waktu lalu itu
sebetulnya menyangkut deislamisasi.
Kebijaksanaan
atau usaha pemerintah di bidang pendidikan seperti ditetapkannya tidak libur
sepenuhnya pada bulan puasa, mau ditetapkannya program Dewey di Sekolah
Lanjutan Atas (SMA), semua mengarah kepada deislamisasi.
Katanya
Islam diperlindungi oleh UUD’45 pasal 29. Mana hak perlindungan terhadap orang
Islam itu? Malah gerak dan langkah umat Islam seperti dibatasi. Hal ini membuat
umat Islam jadi protes. Tapi pemerintah jalan terus. Semestinya “keadaan yang
semacam ini jangan di pertajam lagi” pintanya.
Perjuangan
kita memang banyak lika-likunya. Ibarat air di kali brantas, banyak melalui lika-liku
dan rintangan, tapi akhirnya sampai juga kepada tujuan yaitu lautan.
Penghalang-penghalang ini baik berupa gunung, batu besar atau karang tidak
mungkin dapat ditembus oleh daya gerak air yang kecil itu.
Mengingat
di Indonesia penduduknya mayoritas Islam mestinya siapa pun yang memengang
pemerintahan di Negara ini merangkul yang mayoritas tersebut. Tapi nyatanya
tidak, malah di musuhi yang mayoritas ini. Umat Islam yang banyak jumlahnya
dipandang kecil, tidak punya kekuatan apa-apa, sehingga pihak-pihak tertentu
semaunya saja berbuat terhadap umat Islam. Tidak peduli cara yang dilakukan itu
menyimpang atau bahkan menusuk perasaan umat Islam. Nampaknya teori Machiavelli (Menghalalkan segala cara)
telah diberlakukan terhadap umat Islam.
Barangkali
sekaranglah masanya seperti apa yang diramalkan Rasulullah SAW dalam suatu
didialogan dengan beberapa sahabatnya:
Nanti
suatu saat umat Islam akan diperbuatkan oleh umat/golongan yang lain seperti
memperebutkan makanan lezat di meja makan.”Mereka bertanya, “Kenapa Sampai
demikian Ya Rasulullah? Apakah umat Islam waktu itu jumlahnya sedikit
(minoritas)?” “Tidak, jumlah umat Islam banyak! Akan tetapi hanya seperti buih
yang terapung-apung dipermukaan air (tidak punya kekuatan). Allah cabut rasa
takut dari hati musuh-musuh kamu, dan ditanamkan penyakit al-wahn di hati kamu”, Rasulullah menjelaskan. Sahabat kembali
bertanya, “Apakah al-wahn itu, ya
Rasulullah?” ”Rasulullah menjelaskan. Sahabat kembali bertanya, “Apakah al-wahn itu, ya Rasulullah?” “hubbun dunya (cinta dunia yang
berlebihan), wa karohiyatul maut
(takut akan mati/menanggung resiko)”, jawab Rasulullah.
Meskipun
demikian kita jangan khawatir dan pesimis dalam menegakkan kalimah Allah dan
Syariah Islam di muka bumi ini. Sebab kita punya kekuatan yang mungkin kurang
diperhitungkan oleh pihak lain. Kekuatan itu adalah Allah SWT, yang senantiasa
berada di pihak yang benar.
Allahu
Akbar
Sumber majalah Serial Media Dakwah
No:85 terbitan DDII 1981M/Ramadhan 1401H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar