Ada yang dipikirkan sebelum termenung, masyarakat yang apatis dan berwajah sendu. Apa yang dibayangkan, tentang Jakarta tahun 1621, 1658, 1872, 1910, 1916 dan selajutnya ternyata sangatlah jauh berbeda apa yang diimpikan semangatnya yang membara perlahan padam.
Banjir menggenangi Jakarta hari demi hari. Air bah kanal timur jebol membasahi warga Ibu Kota, tentu matahati kita mulai terketuk. Apa penyebab dari semua ini ? coba kita menengadah sejenak. Alam Jakarta yang perawan telah habis keperawanannya. Pohon Beringin tempat berteduh, kini diambang kehancuran. Pulau Onrust dan Obi tercemar oleh limbah sampah, sedangkan sumber air resapan menjadi sempit diakibatkan pembangunan gedung menjulang tinggi, kemegahan real estate dan kemewahan hotel berbintang lima. Itu sekelumit persoalan Jakarta.
Sementara itu, Kota-kota metropolis penuh sesak dengan manusia, jalan-jalan padat dengan lalu lalang. Sehingga berubahlah mereka bagai tersekap dalam botol-botol yang pengap. Nafas menjadi berat tersiksa dan megap-megap, seolah manusia berebut udara dari Jakarta yang tiada yang berudara lagi.
Jakarta benar-benar telah lumpuh, sementara kegiatan perdagangan ekonomi dengan negara lain maupun provinsi, kota dan desa kini mulai merugi. Perusahaan-perusahaan kapital mulai menghentikan aktivitasnya, ini adalah akibat terhalang derasnya banjir mengguyur kota metropolis.
Maka itu, ijinkan saya menulis puisi dengan kalimat sederhana di bawah ini :
Poros Jakarta
Rintihan-rintihan hujan
Terhempas ditanah kering-kerontang
Kerangka air mata dari langit
Terbelah dan mencekam
Wajah-wajah kecut
Tenggelam dalam lautan abadi
Jakarta berhasrat Matahari terbenam di ufuk
barat
Jakarta laksana raksasa tertidur lelap panjang
Menanggalkan segala aturan-Nya
Turun hujan, Jakarta menggenang
Membersihkan Jakarta dari tinta-tinta Jahanam
Membersihkan Jakarta dari tapak lumpuran dosa
Membersihkan Jakarta dari cela-cela kemaksiatan
Tangisan Air hujan, menjerat Jayakarta
Allah SWT telah menunjukan kekuasaan-Nya.
(Andyricky-Bandung, 21 Januari 2013)
“Poros Jakarta”, begitu judul puisi diatas, ditulis oleh saya sendiri. Dalam perkembangan dan pertumbuhan Jakarta saat ini, mungkin kehadiran bencana tahunan terhadap DKI Jakarta sebagai peringatan keras untuk kita bersama. Agar tetap hidup (survive) lebih konsisten sesuai jalan lurus-Nya, bukan hidup berbuat kerusakan, kemusrikan dan kemungkaran diatas bumi Tuhan-Allah. Semoga……………
Bandung, 21 January 2013
Banjir menggenangi Jakarta hari demi hari. Air bah kanal timur jebol membasahi warga Ibu Kota, tentu matahati kita mulai terketuk. Apa penyebab dari semua ini ? coba kita menengadah sejenak. Alam Jakarta yang perawan telah habis keperawanannya. Pohon Beringin tempat berteduh, kini diambang kehancuran. Pulau Onrust dan Obi tercemar oleh limbah sampah, sedangkan sumber air resapan menjadi sempit diakibatkan pembangunan gedung menjulang tinggi, kemegahan real estate dan kemewahan hotel berbintang lima. Itu sekelumit persoalan Jakarta.
Sementara itu, Kota-kota metropolis penuh sesak dengan manusia, jalan-jalan padat dengan lalu lalang. Sehingga berubahlah mereka bagai tersekap dalam botol-botol yang pengap. Nafas menjadi berat tersiksa dan megap-megap, seolah manusia berebut udara dari Jakarta yang tiada yang berudara lagi.
Jakarta benar-benar telah lumpuh, sementara kegiatan perdagangan ekonomi dengan negara lain maupun provinsi, kota dan desa kini mulai merugi. Perusahaan-perusahaan kapital mulai menghentikan aktivitasnya, ini adalah akibat terhalang derasnya banjir mengguyur kota metropolis.
Maka itu, ijinkan saya menulis puisi dengan kalimat sederhana di bawah ini :
Poros Jakarta
Rintihan-rintihan hujan
Terhempas ditanah kering-kerontang
Kerangka air mata dari langit
Terbelah dan mencekam
Wajah-wajah kecut
Tenggelam dalam lautan abadi
Jakarta berhasrat Matahari terbenam di ufuk
barat
Jakarta laksana raksasa tertidur lelap panjang
Menanggalkan segala aturan-Nya
Turun hujan, Jakarta menggenang
Membersihkan Jakarta dari tinta-tinta Jahanam
Membersihkan Jakarta dari tapak lumpuran dosa
Membersihkan Jakarta dari cela-cela kemaksiatan
Tangisan Air hujan, menjerat Jayakarta
Allah SWT telah menunjukan kekuasaan-Nya.
(Andyricky-Bandung, 21 Januari 2013)
“Poros Jakarta”, begitu judul puisi diatas, ditulis oleh saya sendiri. Dalam perkembangan dan pertumbuhan Jakarta saat ini, mungkin kehadiran bencana tahunan terhadap DKI Jakarta sebagai peringatan keras untuk kita bersama. Agar tetap hidup (survive) lebih konsisten sesuai jalan lurus-Nya, bukan hidup berbuat kerusakan, kemusrikan dan kemungkaran diatas bumi Tuhan-Allah. Semoga……………
Bandung, 21 January 2013

