Kajian

Rabu, 15 Agustus 2012

Munafik


Salah satu ciri dari orang yang munafik ini ialah: tak satu kata dengan perbuatan, lain dimulut lain dihati. Dan oleh Nabi Muhammad SAW lebih diperjelas lagi, yaitu: Orang-orang yang bilamana berkata, sudah berdusta, bilamana berjanji, sukar menepati dan bilamana diberikan kepercayaan, curang atau khianat. 

 Munafik adalah semacam penyakit yang mengaliri tubuh, serupa dengan logam yang dialiri arus listrik. Kalau logam yang dialiri arus listrik tak mungkin dipegang maka orang munafik itu dari ubun-ubun (ujung rambut)nya sampai ketumitnya, tidak dapat dipercayainya. 

Orang munafik ini musuh ulung yang tak boleh diabaikan. Bahayanya besar sekali, karena ia selalu saja mengintip-ngintip dan menunggu-nunggu kesempatan memukul dan menghantam dalam gelap. 

Kalau musuh yang terang-terang, gampang menantikan serbuannya. Kita dapat mengadu licik dan berlomba taktik dengan mereka. Karena berhadapan-hadapan; maka kalau kita dapat mengikis habisnya, tetapi sebagian rencananya akan dapat kita patahkan. 

Lain halnya dengan orang munafik atau musuh dalam selimut. Geraknya tak tampak, malahan kadang-kadang serupa kawan bahkan kawan benar-benar sebenarnya musuh kita tak tanggung-tanggung. 

Kalau ummat tidak waspada, dan selalu lengah atau mudah percaya terhadap orang yang menyatakan dirinya sebagai kawan, maka tunggulah kehancuran. 

Oleh karena itu dengan orang munafik tidak boleh bermain-main. Mereka tak boleh diberi hati. Dahululah membasmi mereka sebelum mereka membasmi kita. Membasminya tidak tanggung-tanggung. Tidak daunnya saja yang dibakar hangus, tetapi, akarnya harus ditumpaskan bongkarannya. Kalau kita abai dan lengah, akibatnya berat kerusakan budi merajalela bahaya dan malapertaka kerutuhan datang

Rabu, 08 Agustus 2012

Pesan Prof.Dr.H. Hamka



Agar supaya kita jangan terpeleset kepada hal yang menyesatkan kita selaku umat yang beragama, pelajarilah agama itu sebaik-baiknya (Hadist). 

Kaum Muslimin harus berhati-hati dan waspada terhadap perbuatan-perbuatan yang akan merusak sendi dan ajaran-ajaran Islam. Sebab di Indonesia ini lain, karena tanahnya subur saja yang ditanam pasti tumbuh. Ditanam tembakau, tumbuh tembakau; ditanam padi, tumbuh padi; ditanam jagung tumbuh jagung; ditanam jelatang tumbuh jelatang. 

Jika yang tumbuh tembakau, padi dan jagung kita beruntung. Tetapi kalau jelatang yang tumbuh, alamat kita akan gatal-gatal semuanya ketularan kudis seluruhnya. Maka dari itu, pelajarilah agama itu dari sumbernya yang sah. Saya anjurkan terutama kepada yang muda-muda, disamping inteletualmu  yang tinggi itu, isilah rohmu dengan agama, mudah-mudahan kamu selamat dunia dan akherat. Tanamkan iman yang kuat didalam dadamu, setelah tertanam jangan sampai tergadaikan. Apa bila sudah tergadai, orang dengan mudah saja mengatakan: “Hai, berapa kau jual Imanmu….?” Sekali lagi saya tekankan, pelajarilah agama baik-baik. Mudah-mudahan pendiriamu akan teguh karena sudah matang dari dalam. Betapapun godaan yang datang, tidak akan apa-apa, karena penangkis dalam jiwamu sudah kuat.

Jika datang kesenangan diberikan Tuhan kepadamu, bersyukurlah atas rahmat-Nya itu. Sebaliknya jika kesusahan yang menimpa diri, terimalah dengan sabar dan dada lapang, yang berarti dirimu bertambah dekat kepada Allah. 

Bila diri sudah dekat kepada Allah, percayalah, pasti tidak akan disia-siakan-Nya.

Bukan emas saja yang diuji orang, iman juga dapat ujian. Disaat-saat susah, janganlah hidup berkeluh kesah, anggap saja sedang menempuh ujian. Jika penuh syarat Iman tentu akan lulus. Sebab apa, seluas-luasnya menahan sabar akhirnya kita akan bersyukur. Tuhan berjanji, orang yang sabar dikasihani-Nya. Tetapi ingat pula, bahwa sabar itu ada batasnya; kalau sudah melewati batas masih diam juga, itu berarti lemah dan pengecut.

Tulisan Pada Majalah "Seruan Istiqamah 1" Kota Bandung

Menegakan Agama (IV) Oleh: K.H. Isa Anshary


Ada dua muka perjuangan kita, yang satu sama lain harus bergerak sejalan dan sehaluan (parallel). Dua muka perjuangan itu ialah: menegakan ma’ruf, memerangi mungkar. 

Ma’ruf tidak mungkin ditegakan, kalau yang mungkar tidak diperangi. Mungkar tidak mungkin dibasmi, kalau tidak dijalankan dengan menegakan ma’ruf. 

Kedua-duanya menuntut pertanggung-jawaban, meminta resiko. Menegakan ma’ruf, mengajak manusia kejalan haq, menyampaikan ajaran agama, menggambarkan balasan bahagia bagi orang yang mengimankan agama, alternatifnya ialah: diterima dan ditolak. 

Jika Qalbunya terbuka lebar untuk menerima Taufik dan Hidayah, si manusia akan menerima ajaran atau da’wah yang kita sampaikan. Kalau jiwanya masih tertutup rapat oleh hawa nafsu yang angkara murka, seruan kita akan ditolaknya, tidak mau dia menerima. Bagi si Mujahid resikonya hanyalah kembali pulang dengan tangan hampa, tidak mendapat pengikut, tidak beroleh pembela. 

Saudara bertabligh, menyeru umat kepada Iman, saudara berpropaganda, menyatakan kebenaran dan kesucian ajaran agama, keutamaan teladan Nabi. Saudara memberi penerangan dimuka khalayak, menjelaskan kesempurnaan Islam, agama untuk segenap umat manusia, di segala bangsa. 

Berbagai-bagai jalan saudara lalui, sebagai juru penerangan. Saudara, telah melakukan tugas Mujahid dengan cara yang sebaik-baiknya, bil Hikmah.
 
Dengan hikmah-kebijaksanaan, saudara membawa da’wah agama ketengah khalayak, kepada manusia yang banyak corak dan pandangannya, banyak ragam nafsu dan selera serta kesukaannya. 

Ada yang iman, ada yang tetap kufurnya. Ada yang menolak, ada yang menerima dengan sungguh hati. Resikonya hanyalah saudara cape, lelah dan payah, tidak mendapat hasil. 

Ganjarannya ada, mendapat pahala karena telah melakukan wajib, menunaikan perintah. Apakah orang akan iman atau kufur, bukan urusan saudara. Apakah orang akan menerima atau menolak, bukan soal Mujahid. Kamu hanya menyampaikan dan memberi ingat. “Sekali-kali kamu tidak berkuasa atas hati mereka”, begitu firman Allah didalam Al-Qur’an. Hati saudara menjadi lega membacanya firman Allah diatas. Lega, karena telah menunaikan perintah, memenuhi wajib. Lega, karena seolah-olah saudara tidak usah memberi pertanggung-jawaban lagi. 

Agama menyuruh saudara terus bekerja, gigih dan elatis, jangan bosan, jangan berhenti, jangan mengaso. “Amar ma’ruf” menghendaki ketahanan, kesabaran, kegigihanm keuletan. Tidak mengenal cape atau lelah.
Tidak mengenal istirahat atau mengaso, “Amar ma’ruf” menuntut keringat dan air mata. “Amar ma’ruf” menuntut pengorbanan senantiasa, terus-menerus. Pengorbanan segala, memberikan apa yang ada. Iradah kemampuan memberikan pengorbanan, menengakan ma’ruf. Kodrat-kesanggupan melakukan bakti, menegakan ma’ruf. “Ma’ruf” dalam pandangan Allah, bukan dalam pandangan manusia.

Nahi Mungkar?

Muka perjuangan yang sebuah lagi, ialah memberi kemungkaran. Memerangi kemaksiatan dan kedurjanaan. Resikonya besar. Saudara akan terbentur oleh “adat lama pusaka using”. Saudara akan menghadapi, kebiasaan dan kelumrahan jahiliah yang biasanya dipertahankan orang mati-matian. 

Saudara akan bertemu dengan bermacam-macam upacara agama yang tidak berasal dari Kitab dan Sunnah.  Syirik, menyembah batu dan kayu, kuburan tempat ulama besar dimakamkan yang dianggap keramat. Bid’ah yang dianggap sunnah. Taqlid membabi buta yang dianggap tha’at. Saudara akan berhadapan dengan orang-orang yang memegang kekuasaan, yang lazimnya tidak mudah mengerti dengan pendirian agama yang sejati. Resiko dari segala itu?

Saudara akan diludahi orang banyak yang berpegang kepada “adat lama pusaka usang”. Karena saudara hendak menghancurkan yang lama, yang mereka dijadikan pujaan. 

Saudara akan difitnah oleh ahli bid’ah, syirik dan churafat, karena dianggap “pemecah persatuan”. Saudara akan dijerumuskan oleh ulama yang suka menjilat kepada yang berkuasa, dengan tuduhan saudara adalan pengacau, penganggu keamanan dan ketentraman umum, rust and orde. 

Akhirnya saudara akan berkenalan dengan bui dan penjara. Coba saudara membuka lembaran tarich. Lihat Muhammad SAW yang mulia itu dikatakan gila, diancam hendak dibunuh, karena membawa agama baru, menentang “arca dan berhala”, barang yang lama. 

Lihat Ibnu Taimiyah, yang meninggal dalam penjara, karena fitnah ulama-jahat dan penjilat. Lihat Jamaluddin Al-Afgany yang menjadi “orang buruan”, dikejar dari negeri yang satu kenegeri yang lain. Lihat Muhammad Abduh yang dihujani fitnah, karena berani menentang mungkar di tanah Mesir, sedang yang mungkar itulah kesukaan kaum berkuasa. Masih banyak lagi perumpamaan, kenyataan sejarah yang dapat kita baca dalam riwayat para mujahid dan mujadid Islam zaman dahulu.

Di Indonesia pun ada yang demikian itu. Syech Ahmad Soorkarty Al-Anshary (Al-Irsyad), pernah hendak dibunuh oleh golongan yang tidak suka, karena menyebarkan faham baru, bertentangan dengan yang lama. Dr. Syech H. Rasul (Ayahanda Buya Hamka) dibuang, karena sangat radikal menentang adat lama pusaka usang, tapi nyata bertentangan dengan agama baru. 

Ahmad Hassan Guru Besar Persatuan Islam itu diserang dari kanan dan kiri karena berani memberi fatwa yang berlainan dengan kebiasaan orang yang banyak, tidak sesuai dengan nafsu orang banyak. Pernah saya  mendengar, majalah “Pembela Islam” yang diterbitkan oleh para pemuka “Persatuan Islam” di Bandung ditukar orang namanya dengan “pembelah Islam”, karena kaum Persis ini suka rebut-ribut membasmi bid’ah, merusak “persatuan”. Masih banyak lagi, kalau disebutkan satu persatu. Tapi kemenangan berada pada tangan yang haq. 

Muhammad Rasulullah yang hendak dibunuh oleh pemerintah kafir Quraisy, berhasil menegakan Negara Islam. Faham Ibnu Taimiyah, Jamaluddin Al-Afgany tersebar luas diseluruh dunia Islam, dan itulah yang menjadi dinamika gerakan perubahan alam Islam diabad kita ini. 

Lihat pulalah benih yang disemaikan Ahmad Soorkarty, Dr. Syech H. Rasul, A. Hassan Bandung dalam soal agama? Tuan bacalah buku kecil  beliau “Surat-surat Islam dari Endeh” yang memperingati jasa “Persatuan Islam” di Indonesia!. 

Saya sebutkan nama-nama diatas, bukan untuk memuji dan memuja. Saya tidak biasa memuji-muji orang, apalagi orang yang masih hidup. Akan tetapi, riwayat kebangkitan Islam di Indonesia sejarah gerakan perubahan di Indonesia, tidaklah dapat menganggalkan nama dan jasa orang-orang besar diatas. Dan gunannya untuk kita generasi sekarang?

Gunannya ialah untuk kita jadikan contoh-teladan tinggi, almatsalul a’ala, menyambung perjuangan mereka. Kebenaranian mereka menyatakan faham, melahirkan yang haq. Kesanggupan mereka mengemukakan pendirian yang tegas, garis yang jelas, tatkala berhadapan dengan tiap-tiap perkara yang tidak sesuai dengan patokan agama, itulah yang wajib kita contoh. 

Tidak gila diplomasi dalam soal hukum agama. Tidak tenggang-menengang menjaga nafsu dan perasaan orang banyak, sewaktu agama menuntut ketegasan sikap dan ketetapan hukum. 

Boleh saudara lihat dizaman Jepang. Diwaktu sebagian ulama di Jawa dan Sumatera berlindung dibawah bendera Hinomaru, bekerja sama dengan Jepang, sehidup-semati dengan Jepang, disaat itu kita harus Seikerei kearah Tokyo.

Disaat itu sebagian ulama diam tak berani bersuara dan berkata menyatakan pendirian dan sikap. Disaat itu dengan kontan dan tegas suara seorang “laki-laki Islam yang menyatakan pendirianya, bahwa Seikerei kearah Tokyo itu adalah haram hukumnya. Laki-laki itu ialah Dr. Syech H. Rasul. 

Pendirian seorang laki-laki Islam itu cukup bagi umat Islam untuk menentukan sikap dan pendiriannya terhadap pemerintah Balantentara Dai Nippon. Umat Islam tidak menjauhkan lagi suara “alim ulama” yang mengurung dirinya dalam kandang kantor Syumubu di Jakarta dengan mendapatkan gaji besar dan auto mengkilap. 

Wahai, mana sekarang dari fihak Ulama kita yang hendak menyatakan pendirian, berhadapan dengan tiap-tiap kemungkaran dan kemaksiatan bid’ah dan churafat. Mana sekarang ulama kita yang berani mengorbankan diri pribadinya untuk kepentingan umat sekalian? 

P.M. Mesir Mustafa El Nahas Pasha menyatakan dalam pidato Maulidnya dicorong radio Mesir tanggal 11 Desember 1951:

“Islam menghendaki pengorbanan dan kehancuran individu guna kepentingan bersama”

Alangkah dalamnya hikmah dan falsafah ucapan diatas. Memfanakan diri sendiri, mentiadakan diri sendiri, guna kepentingan cita-cita dan ketinggian umat bersama. Itulah contoh Jihad yang sudah diberikan oleh pada mujahid Islam zaman dahulu. 

Hanya Untuk Islam
Criteria (ukuran) yang dipakai untuk menetapkan nama yang ma’ruf, nama yang bukan kesukaan dan kesenangan orang banyak, atau suara terbanyak seperti yang diajarkan oleh demokrasi Barat. Ukuran Qur’an dan Hadist itu adalah mutlak (absolut). 

Mengajak kepada ma’ruf, menolak dan membasmi yang mungkar, menolak dan membasmi yang mungkar, itulah yang dinamakan menengakan agama. Menengakan agama Islam, agama Tauhid. Bukan menegakan agama lain, agama musyrik.
Inna’didina’indal Laahil Islam.
Agama yang diakui oleh Allah, hanyalah Islam. Berdosa dan khianatlah seorang Muslim, yang membantu subur dan majunya agama selain Islam. Entah agama itu Nasrani, Jahudi atau Majusi, haramlah hukumnya bagi seseorang Muslim, membantu menyuburkan, menyesatkannya. Berdosa dan khianatlah seorang Muslim kepada agamanya (agama Tauhid) jikalau dia berbuat menyokong mempersubur gereja dan klenteng, memperbanyak arca dan berhala. 

Memang Islam mengajarkan kepada pemeluknya supaya bersikap toleransi, tasamuh terhadap orang yang beragama lain. Tidak boleh menghina dan merendahkan. Tidak boleh mencerca atau mencaci. Bahkan dalam Negara berketuhanan. Diwajibkan pemerintah melindungi serta menjalankan kemerdekaan beragama bagi warga Negara. 

Akan tetapi, toleransi yang diajarkan Islam itu tidaklah bermaksud supaya umat Islam berbuat menolong majunya agama lain itu. Kewajiban umat Islam ialah menegakan agama Islam, agama Tauhid. Untuk kepentingan agama Tauhid, untuk ketinggian harkat dan martabat umat Tauhid hanya untuk itulah umat Islam diperintah berkorban: harta, raga dan jiwa sekalianpun. 

Dalam hubungan mu’amalat, pergaualan sehari-hari, jual beli, pagang gadai, tolong-menolong dalam urusan duniawi, diharuskan kita berlaku baik terhadap manusia sesama, walaupun tidak seagama dengan kita. Akan tetapi dalam lapangan ubudiyah agama, dalam urusan dini, Islam telah membentengkan garis pemisah yang setajam-tajamnya. Qur’an dan Hadist, telah mengadakan “garis demokrasi” yang haram kita lampaui.

Qul! Ya ayyuhal kafirun! La a’budu ma ta’budun.
Katakana olehmu Muhammad! Hai segaa orang kafir! Aku tidak akan menyembah yang engkau sembah.
Wala antum ‘abiduna ma a’bud
Kamu tidak pula akan menyembah yang aku sembah.
Itulah ketentuan dan patokan Islam, yang diajarakan oleh Qur’an dan Hadist. Dalam lapangan ubadiyah agama, tidaklah boleh umat Islam bercumbu-cumbuan dengan orang yang beragama lain. 

Asyidda ‘alal kuffar, Ruhama-u baynahum (Qur’an).
Umat Islam harus keras menghadapi kafir, bersikap rahim terhadap sesama Muslim.  Keras terhadap kafir disini bukan artinya memaksa mereka masuk Islam atau menindas agama mereka kalau kita telah berkuasa, akan tetapi dalam soal-soal pendirian agama, dalam soal-soal pokok dan peribadahan, tidaklah boleh kita bermain mata atau berbuat menyuburkan agama mereka, menyokong Zending dan da’wah mereka. 

Tidak sampai karena toleransi agama Islam. Tidak sampai kesana keberagaman dalam Islam. Toleransi demikian itu adalah ‘munafik’, karena ‘mendamaikan’ Tauhid dan syirik. Sesat, karena mengawinkan Haq dan bathil.

Senin, 06 Agustus 2012

Iman dan Jihad*


Bukankah Iman cahaya tauhid, telah bersenandung di jiwa Muslim
Penggalang seni pelopor jihad, pembangunan budi, pembela tauhid
Menjadi anshar KALIMAH ALLAH!
Sedia menerima hidup dengan nikmat dam rahmat ilahi
Sedia menerima mati dengan syahid dan berabdi untuk Allah
Hubaya kalimah sakti-Nya suci dan disucikan
Hubaya terhindar dari ISME manusia sesat yang bernilai benda
Wahai terbayang dimata kami cahaya kekal di-Alam Baqa
Kepada manusia penegak kalimah tauhid
Kunjungankah datangnya jihad jama’ah islami
Tidak membela golongan Islam disana, Islam disini
Tetapi satu langkahnya, satu deritanya, Islam ber-kalimah Tauhid

Namun nazarnya sejurus LI I’LA I KALIMATILLAH.
Konon sayup-sayup ketelingga kami, ada segelintir manusia jiwa benda
Ingin mencoba menumpas Allah, Muhammad pilihan….dikatakan penipu

Dicemar dinista, disiram noda, disiram najis….?
Amboi demikian anjaknya pribadi manusia modern a’la Fir’aun.
Oh!....Bani Insan penggalang Takbir….
Sucikanlah Dia, kalimah sang Agung
Sitalah noda dan najis itu dengan air zamzam yang mengalir dalam tubuh Muslim
Rahasia kalimah-Nya, dijadikan Dia pendukung untuk bersujuhada
Karena hayat dan darah untuk Chaliq semesta.
TUHAN!!....!!!!!!
Berikalah kami daya kekuatan dalam menghitung kebersihan nama-Mu
Berilah warisan kami dibeberapa ABAD nan lampau
Kami takut kalau Engkau menghitung kami, karena Engkau…
Maha Penanya dan pembalasan…
Bukankah urusan kami dengan Engkau belum selesai!
Oh~!! Tuhan ! kami senantiasa menanti ilham taufik-Mu
Kapankah perhitungan-Mu akan berlaku terhadap manusia, penista Engkau?
Kini terhunjam menjadi najid bumi-Mu….
Telah cukup barisan syuhada yang berjejer disamping-Mu
Semoga tidaklah Engkau tambah lagi derita sang manusia..!!
Tetapi berilah kami sinar cahaya-Mu untuk seketika menyelesaikan
Urusan kami dengan Engkau!!!!!!!

Muara Teweh, Kalimantan 9 Desember 1953
*Puisi yang dimuat di majalah ‘Aliran Islam’ no 56

Minggu, 05 Agustus 2012

Menegakkan Agama (III) Oleh: K.H. Isa Anshary

Muballigin dan Mudjahidin Islam, bersihkanlah agama dari bid’ah dan churafat!
Arahkanlah usaha menuju terbentuknya kesatuan umat Islam!
Bentengilah ideologi Islam dengan susunan perjuangan yang kuat dan kuasa!
Tegakkanlah Uchuwwatul Islamiyah, persaudaraan Islam yang sejati!
Kembalilah kepada Qur’an dan Hadist!
Duru ma’a kitabil Lahi haj tsuma 



Zaman Jaya Cuaca
Sepanjang jalan sejarah Islam, dunia mengenal satu masa gemilang dalam kehidupan kaum Muslimin. Zaman emas, zaman kejayaan dan kerajaan, dimana umat Islam sampai kepuncak kemegahannya, hidup dibawah lindungan panji-kemenangn, dikagumi oleh dunia sekeliling, disegani oleh orang kanan dan kiri. 

Bagiku qurun harum semerbak itu, bukanlah zaman Bagdad dan Cordova, tidak bertemu pada masa Ummayaden Andalusia atau Abbasden Bagdad, seperti yang kerap didendangkan oleh para penyiar, buah fantasi para pujangga………..

Zaman keemasan dalam perjalanan tarich, tidak lain adalah zaman Rasulullah SAW dan Chulafaurasidien. 

Zaman itu telah sampailah sempurna kepuncak  jaya dan raja, zaman dimana kaum Muslimin dengan perbuatannya sendiri telah membentuk satu masyarakat keridaan Allah SWT, masyarakat thaibah yang diliputi karunia dan ampunan Tuhan Semesta alam. 

Zaman itu adalah zaman keemasan dan kejayaan, dimana umat Islam berkehidupan luhur dan terpuji, karena berpegang dan berpedoman kepada Qur’an dan Hadist. Jayanya tidak karena gedung mahligai mencakar langit. Semerbaknya tidak, karena bangunan-materi menjulang keudara, tidak karena hasil teknik arsitektur menguasai seluruh alam dan susunan penghidupan. 

Zaman itu adalah zaman ketenangan dan kegiatan. Tenang, dimana umat manusia sujud menyerah kepada Tuhan yang satu, tidak berserikat. Giat, dimana semua anggota masyarakat berusaha dan bekerja menciptakan kemakmuran dan sejakterah bersama. 

Ketenangan dan kegiatan berjalin dalam susunan kehidupan, materi dan rohani topang-menopang menurut bakat dan kodratnya sendiri. 

Zaman itu adalah zaman berpadunya tenaga dan usaha, pikiran dan perbuatan cita-cita dan kenyataan. Dengan rumusan filosofi zaman itu dapat digambarkan adalah zaman tegaknya tangga yang menghubungkan bumi dan langit dalam susunan alam; tegap kuatnya jembatan yang mempertalikan dunia dan akherat dalam ajaran agama; harmonisasinya kesatuan antara jasmani dan rohani dalam susunan insan; seimbangnya antara upah dan kerja dalam dunia usaha. 

Zaman itu ialah zaman Qur’an dan Hadist. Zaman ajaran agama tidak menjadi sengketa dan pokok perselisihan, tetapi menjadi pengertian dan kethaatan, menjadi ilmu dan perbuatan. 

Zaman itu adalah zaman yang langsung dibawah pimpinan Rasulullah dan pemimpin empat seiring, Abu Bakr, Umar, Usman dan Ali. Itulah zaman cuaca terang, zaman emas maha gemilang, yang harum semerbaknya kekal berabad-abad. Zaman itu telah lalu dan ia akan tetap menjadi sejarah. Sejarah zaman yang lampau, sejarah perjuangan dan perbuatan umat yang dahulu.

Zaman Lemah dan Kalah

Setelah Rasulullah SAW dan Chulafaur Rasidien pulang ke rahmatullah, cahaya gemilang itu berangsur suram. Bintang-bintang gemerlapan dilangit biru, satu demi menghilang kebalik awan dan para musafir dipadang pasir hampir tiada menampak alamat buat meneruskan  perjalanannya. 

Kematian dan kelusuan hampir dalam segala lapangan menunjukan kenyataan. Hampir segenap kemanusian jantungnya tidak berdetak lagi. Hampir dalam segala lapangan, riwayat itu menurun tidak tertahan, karena kaum Muslimin telah meninggalkan Al-Qur’an dan Hadist Nabi yang shahih. 

Dalam lapangan politik kenegaraan, sistem syuro diganti dengan sistem raja-feodalisme, dimana pemerintahan otokrasi dan tirani berjalan semau-maunya. Dalam lapangan ekonomi, tiada tampak lagi usaha hendak mengangkat derajat rakyat banyak kepadang kemakmuran dan kesejakterahan, tanpa golongan kaya dan borjuis telah sewenang-wenang memeras golongan rakyat banyak tanpa mendapat perbaikan dan pemerintah Negara. 

Dalam lapangan sosial-kemasyarakatan, kembali manusia membanggakan keturunan menak dan bangsawan darah, menepuk dada dengan pongahnya, bahwa golongan dan kasta merakalah yang paling tinggi didunia yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi “maha pemimpin” bagi manusia sekalian. Lihatlah pula dalam lapangan agama dan ucapan ibadah! Tauhid telah dianggap syirik! Ibadah telah dikotori oleh bermacam-macam bid’ah. 

Ingin menjadi kaya, hendak mendapat anak, mencari senang dan untung orang telah meminta-minta kepada batu besar, kayu sakti, kuburan keramat, sujud menearap di bawah si “Si Jagur” dan “Buah Batang”. Peribadahan agama telah dicampuri berbagai kemodelan, bid’ah yang tidak berasal dari Nabi.

Taqlid membuta-tuli telah “menjajah” kehidupan rohani umat Islam. Apa yang datang dari sang Kyai dan tuanku Syech, diterima dengan tiada (tanpa) bandingan dan penyelidikan. Pikiran yang membeku dan menjumud, jiwa yang menyerahkan kepada taqdir dan menanti taqdir datang dari langit tinggi. Dengan tidak berusaha dan bertenaga, telah merata menjadi sikap umat Islam.

Bermacam-macam tharekat tumbuh dengan suburnya, yang ajarannya bertentangan nyata dengan sunnah Nabi, telah membawa umat Islam hanyut didalam banjir kesesatan dan dlalalah. Pendeknya, umat Islam telah berpisah jauh dengan Qur’an dan Hadist. Dalam keadaan yang demikian itu, datanglah imprealisme barat menyerbu dunia  timur (Islam) ialah memisahkan kaum Muslimin dari ajaran dan hakikat Islam yang sebenarnya. 

Maka hilanglah tenaga dan kekuatan kaum Muslimin berhadapan dengan kekuasaan kaum penjajah. Politik-isolasi, politik memisahkan umat Islam dari kewajiban terhadap masyarakat. Sikap rohani umat Islam yang statis, pasif dan negatif, telah menenggelamkan dunia Muslimin berabad-abad kedalam lembah penjajahan kaum kafir. 

Al Ustadzul Imam Syech Muhammad Abduh. Maha guru yang terkenal itu dengan tangkas mengatakan “Al Islamu mahdjubun bil Muslimin”. Cahaya kebenaran Islam yang gilang-gemilang itu ditutupi oleh kelakuan dan perbuatan kaum Muslimin sendiri.
Pernyataan diatas sangat tegas.Memanglah demikian!

Lebih jauh dalam kitabnya “Islam waraad ‘ala Muntaqidih’ alim besar itu berkata:

“Umat Islam telah salah memahamkan arti tawaqal dan taqdir. Kesalahan itu telah membawa mereka bersikap malas dan berdiam diri dengan tiada mau beramal.”

Akhirnya mereka menyerah diri bulat-bulat kepada kemauan alam dan diombang-ambing oleh gelombang keadaan, menunggu angin bertiup badai memecah ditepi pantai.

Kalau angin tak datang, mereka diam tiada berdaya; mereka menyangka dengan sikap yang demikian itu Tuhan telah ridla kepada mereka. Mereka mengira sikap yang demikian itulah yang sesuai dengan ajaran agama mereka.

Umat Islam telah keliru memahamkan maksud ayat dalam Al-Qur’an yang mengatakan, bahwa umat Islam adalah sebaik-baiknya umat yang dibangkitkan untuk sebuah kemanusian. Mereka menyangka gelaran ini akan melekat erat pada mereka senantiasa, tidak boleh diganggu-gugat. Mereka berkeyakinan, bahwa derajat tinggi itu akan melekat terus dengan memakai kalimah Islam, walaupun kehidupan mereka jauh dari ajaran dan hakikat Islam yang sejati. 

Mereka berpendirian, bahwa Allah akan menolong mereka, walaupun mereka tidak beramal dan berbuat, menyusun kekuatan dan menangkis bahaya dan bencana. 

Jika mereka ditimpa oleh malapetaka kesengsaraan yang hebat, sudah cukup mereka terima dengan kata-kata qadla dan qadar untuk mengobati kegelisahan hati. Mereka pun tidak segera mengambil sikap, bahkan tidak mempunyai sikap sedikitpun untuk menyingkirkan segala sesuatu yang nyata-nyata melanggar Kitab dan Sunnah. 

Umat Islam telah salah memahamkan pengertian tha’at kepada Ulil Amri, pengertian setia kepada pemerintahan dan arti takluk dibawah hukum negara. Kesalahan itu telah menyebabkan bahwa segala sesuatu hendak mereka serahkan saja kepada pimpinan negara. Mereka berserah diri, dan membiarkan negara hanya terpegang ditangan pemerintah sepenuhnya. 

Sesudah menyerah, mereka lalu membelakang kepada pemerintah dan menyangka bahwa segala sesuatu itu cukup dijalankan oleh pemerintah sendirinya, dalam segenap hal yang mengenai masyarakat dan negara, baik yang mengenai peredaran suasana kenegaraan maupun yang mengenal politik negara terhadap semuanya. 

Mereka seakan-akan tidak peduli dan acuh tak acuh selain hanya mereka tahu membayar pajak yang diwajibkan atas mereka. Istilah yang menimpa ummat Islam, disebabkan karena banyaknya pekerjaan bid’ah dalam agama, kebid’ahan itu lantas berpengaruh kepada akal mereka, ideologi dan amal perbuatan mereka. 

Sehingga mereka telah banyak sekali pengertian dan telah menyimpang dari tujuan pokok agama yang sebenarnya. Pengertian mereka salah dan keliru, dan mereka jahil dalam beberapa bagian bab dan fasal-fasal agama itu. 

Merebut kemenangan untuk kenyataan luhurnya kalimah Allah! Kembali Rasulullah SAW berdiri didepan mata-hati kaum Muslimin, memberi komando disegala dan perjuangan. 

Tinggi mengatas daripada kemuliaan raja-raja dunia dan kepada segala Negara, membuang kemulian dan keutamaan Nabi Muhammad SAW ruh dan semangatnya bergetar dan bergema dalam jiwa dan jantung umat Islam segenapnya. 

Pendekar-pujangga Islam maju kedepan dengan mengangkat tinggi bendera Islam dimedan pertemuan segala manusia. Dan sekalipun dalam perjuangan berebut keduniaan kadangkala hilang cahaya agama akan tetapi sebagai kekuatan rohani. Lebih kuat nyawanya daripada segala keduniaan ini dan sebagai bukti kenyataan, ialah yang akan berdiri kelak, apabila segala kekeliruan telah membawakan sendiri bukti kesesatannya. 

Inilah pokok pikiran yang membesarkan hati dan budi perjuangan umat Islam sekarang ini. Berapa pun riuh gemuruh sorak-sorai permuka dan pemimpin dunia memanggil membelokan jarum hati dan haluan kemudi umat Islam akan tetaplah ke abadian pimpinan laki-laki besar Muhammad SAW dalam dada dan jantung kaum Muslimin dunia. 

Laksana batu karang ditengah lautan pancaroba, akan tetaplah tegak kepada umat Islam dengan badai pengakuan, bahwa pimpinan Muhammad, berpegang dan berpedoman kepada Qur’anul Karim itulah pimpinan yang maha sempurna, untuk segala bangsa dan masa. 

Muhammad SAW maha pemimpin, meninggalkan keyakinan dan kepercayaan. Mewariskan cita-cita dan tujuan hidup bagi kaum Muslimin. Keyakinan, kepercayaan, kebenaran sempurna. Cita-cita dan tujuan hidup, yang mendarah daging dalam seluruh tubuh kaum Muslimin, telah memberi daya dan tenaga maha raksasa dalam menghadapi gelombang besar yang membanting dalam samudera pergaulan segala bangsa. 

Bentuk keyakinan, kebangkitan idealisme, menentukan tujuan perjuangan, dalam meneruskan garis Maha pemimpin Rasulullah SAW. Kecintaan dan kesetiaan kepadanya, tinggi mengatas dari segenap hajat kebutuhan dalam alam syahadat, karena ia berdasarkan surat nadi-iman yang menancap dalam bumi jiwa manusia.

Bukan fanatik bukan ta’asub, bukan ikutan membuta tuli, bukan sentiment, tetapi kepercayaan, iman, keyakinan yang memastikan tegaknya perjuangan Muslimin, yang tidak putus-putusnya. Erat-terikat dalam tangan genggeman pimpinan Nabinya, Muhammad SAW.

Maka ruh dan tenaga yang menghidupkan gerakan perubahan yang pada mulanya bergema se-tempat-tempat, lambat laun gempita suara itu melintasi segala batas, gunung dan samudera, diterima dan mendapat tempat yang subur dan makmur. 

Demikianlah senantiasi api yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, Ibnu Taimiyah, Djamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridla, diberikan dan diterima dari tangan ketangan, sinar itu memancarkan kesegala benua, menerangi lautan dan daratan, diterima oleh jiwa dan pikiran yang hendak maju dalam pertempuran segala keyakinan.

Historia kebangkitan ummat Islam Indonesia, tidaklah akan melupakan jasa dan pengorbanan  para mujahidin yang telah pulang keramatullah: Syech Ahmad Soorkaty Al Anshary, Dr.Fiddin H.A. Karim Amrullah (Syech H. Rasul ayahanda Buya Hamka), Dr. Fiddin H. Abdul Ahmad, Syech Muhammad Jamil Jambek, K.H. Ahmad Dahlan,  K.H. Fachruddien, Zainuddin Labai El Yunusy, dllnya. 

Historia kebangkitan dan gerakan Qur’an dan Hadist di Indonesia, sebagai sumber semangat dan kehidupan jiwa perjuangan umat Islam, tidaklah akan melupakan jasa dari “Persatuan Islam” Bandung dengan Pembela Islam-nya, yang telah memegang dan melakukan peranan penting memerangi segala kesetatan bid’ah dan churafat di Indonesia. 

Demi, disat kita menghadapi pembangunan Negara dan pembinaan masyarakat baru seperti sekarang ini, dengan segala keikhlasan hati dapatlah saja menyerukan dengan perantaraan tulisan ini, kiranya Mujahid dan Mujadid Islam, alim ulama Islam, generasi muda Islam, mendasarkan segala gerak perjuangannya kepada Qur’an dan Hadist. 

Marilah kita sekalian menjadi pembela Islam dan penegak Hukum, marilah kita menjadi pahlawan Sunnah, meneruskan perjuangan pada mujahid yang sudah dahulu pulang meninggalkan kita. Marilah kita hidupkan dan tegakkan hukum Islam dalam masyarakat! Marilah kita teruskan jihad perjuangan yang sudah diteladankan oleh para Ulama sebelum kita!

Marilah kita insafi, bahwa hanya dengan dasar Qur’an dan Hadist, barulah kita akan mendapat kekuatan dan tenaga maha raksasa dalam perjuangan besar ini. Hanya dengan Qur’an dan Hadist kita dapat membentengi ideologi Islam yang kini tengah kita perjuangkan.

Rekonsiliasi ‘PKI’ dapatkah dilakukan?


Melihat tayangan Mata Najwa di Metro TV pukul 22 Malam (05/01/12), terlihat Putra nomer satu di PKI, Ilham Aidit dengan mengatakan bahwa PKI itu salah. Namun perlakuan kepada keluarga eks-PKI selalu mendapatkan perlakuan diskriminasi ujar Ilham sang Putra Dipa Nusanatara Aidit. 

Baiklah penulis akan menanggapi persoalan rekonsiliasi korban yang dinyatakan PKI maupun dituduh PKI. Kita harus melihat sudut pandang sejarah sebelum kejadian, apakah kita menyaksikan, membaca literature-literatur sejarah atau mendapatkan cerita dari orang-orang tua-tua kita bagaimana kekejaman PKI pada saat itu. 

Rekonsialiasi menurut kamus besar bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka berarti “perbuatan memulihkan pada keadaan semula” atau “memberi memaafkan jalan  bagi sesama”. Penulis, menyaksikan bahwa pemulihan korban PKI ke Komnas Ham itu adalah suatu hak keluarga eks-PKI. Berdasarkan data-data yang ada, misalnya; 1 oktober 1965 jalan, “sebagai hari kudeta jahanam”. Menjadi hal kontroversi antara pihak, masing-masing terbelah menjadi dua kubu. 

Pemberentokan 1 Oktober 1965 dilakukan oleh gerakan gerombolan PKI untuk melakukan coup d'etat, membunuh para jendral, ulama dan segala kartu kebuka semua. Pihak lain, menjelaskan didalangi oleh CIA dan ABRI untuk meraih mahligai kekuasaan. 

Maka kita kembali pada kudeta yang dilakukan Musso Cs, di Madiun fair 1948 dengan cara-cara kejam, membunuh, membantai, mendapatkan acaman, intimidasi. Apakah dengan perlakuan orang Komunis kepada orang yang beda pendapat harus melakukan kekejian, kemungkaran. Pasti saja, sebagaimana Komunis memerintah sebuah Negara dalam waktu sekejap akan ada orang yang mati melayang. 

Kadang kala kita sebagaimana bangsa Indonesia, mudah sekali menjadi bangsa pemaaf. Namun mudah lupa saja pada kejadian pemberontakan itu. Penulis, sebenarnya dapat menerima pintu maaf mereka, akan tetapi mereka harus minta maaf kepada anak-anak tokoh Masjumi dan Umat Islam. Sebagaimana, tokoh2 Masjumi dianggap kontra-revolusioner dengan Bung Karno atas desakan PKI dan tokoh-tokoh Masjumi di masukan kepenjara. Dibuang ketempat pengasingan dalam waktu yang lama. Keluarganya tidak mendapatkan  jaminan hidup, dibiarkan terlantar dalam kepapaan dan kesengsaraan. 

Jika pemerintahan kolonial dahulu bersikap human terhadap orang politik yang diasingkan, mempersatukan mereka dengan keluarganya dan mendapat jaminan hidup dari pemerintah nasional yang dikuasai PKI hal demikian itu haram; tak ada. 

Sudah saatnya bangsa Indonesia, menjadikan pemberontakan 1926-1948-1965 sebagai pembelajaran bagi kita untuk tidak terulang lagi, ibaratnya jangan sampai negeri ini masuk kelubang yang sama lubang yang penuh kubangan darah.  Penulis ini tidak ada sentiment-perseorang dengan keluarga eks-PKI, walaupun itu adalah akibat ulah politik mereka. Penulis sengaja menggunakan bahasa dan kata sederhana karena terbatasnya pebendaraan. Penulis minta maaf pula bahwa didalam ajaran Islam tidak ada istilah dosa tururan, padahal anak-anak cucu-cucu PKI tidak mengerti kejadian itu, dan mereka waktu itu terlalu kecil untuk memahami kejadian itu. 

Insafilah!
 Semoga Allah Merahmati kita!
“Dan sesungguhnya telah Kami Muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik Dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna Atas kebanyakan makhluk yang telah Kami Ciptakan” (Al Qur’an surat Al Israa’ (17) ayat 70)

Jumat, 03 Agustus 2012

Memang Ada Deislamisasi


Deislamisasi memang ada di Indonesia sekarang ini. Mengenai kapan mula pertama munculnya, Tidak begitu jelas. Yang jelas perkembangan deislamisasi sekarang ini terasa makin tajam. Sarana dan kegiatan dakwah Islamiyah boleh berkembang seluas-luasnya, tetapi ideologi politik Islam Nampak ditekan dan tidak boleh berkembang. Nilai-nilai dan istilah-istilah agama diusahakan hilang sehingga tidak ada warnanya sama sekali. 

Kebijasanaan pemerintah sejak beberapa tahun terakhir ini membuktikan adanya deislamisasi itu. Dan pertemuan antara pemerintah dengan Ulama beberapa waktu lalu itu sebetulnya menyangkut deislamisasi. 

Kebijaksanaan atau usaha pemerintah di bidang pendidikan seperti ditetapkannya tidak libur sepenuhnya pada bulan puasa, mau ditetapkannya program Dewey di Sekolah Lanjutan Atas (SMA), semua mengarah kepada deislamisasi. 

Katanya Islam diperlindungi oleh UUD’45 pasal 29. Mana hak perlindungan terhadap orang Islam itu? Malah gerak dan langkah umat Islam seperti dibatasi. Hal ini membuat umat Islam jadi protes. Tapi pemerintah jalan terus. Semestinya “keadaan yang semacam ini jangan di pertajam lagi” pintanya.

Perjuangan kita memang banyak lika-likunya. Ibarat air di kali brantas, banyak melalui lika-liku dan rintangan, tapi akhirnya sampai juga kepada tujuan yaitu lautan. Penghalang-penghalang ini baik berupa gunung, batu besar atau karang tidak mungkin dapat ditembus oleh daya gerak air yang kecil itu.

Mengingat di Indonesia penduduknya mayoritas Islam mestinya siapa pun yang memengang pemerintahan di Negara ini merangkul yang mayoritas tersebut. Tapi nyatanya tidak, malah di musuhi yang mayoritas ini. Umat Islam yang banyak jumlahnya dipandang kecil, tidak punya kekuatan apa-apa, sehingga pihak-pihak tertentu semaunya saja berbuat terhadap umat Islam. Tidak peduli cara yang dilakukan itu menyimpang atau bahkan menusuk perasaan umat Islam. Nampaknya teori Machiavelli (Menghalalkan segala cara) telah diberlakukan terhadap umat Islam. 

Barangkali sekaranglah masanya seperti apa yang diramalkan Rasulullah SAW dalam suatu didialogan dengan beberapa sahabatnya:
Nanti suatu saat umat Islam akan diperbuatkan oleh umat/golongan yang lain seperti memperebutkan makanan lezat di meja makan.”Mereka bertanya, “Kenapa Sampai demikian Ya Rasulullah? Apakah umat Islam waktu itu jumlahnya sedikit (minoritas)?” “Tidak, jumlah umat Islam banyak! Akan tetapi hanya seperti buih yang terapung-apung dipermukaan air (tidak punya kekuatan). Allah cabut rasa takut dari hati musuh-musuh kamu, dan ditanamkan penyakit al-wahn di hati kamu”, Rasulullah menjelaskan. Sahabat kembali bertanya, “Apakah al-wahn itu, ya Rasulullah?” ”Rasulullah menjelaskan. Sahabat kembali bertanya, “Apakah al-wahn itu, ya Rasulullah?” “hubbun dunya (cinta dunia yang berlebihan), wa karohiyatul maut (takut akan mati/menanggung resiko)”, jawab Rasulullah. 

Meskipun demikian kita jangan khawatir dan pesimis dalam menegakkan kalimah Allah dan Syariah Islam di muka bumi ini. Sebab kita punya kekuatan yang mungkin kurang diperhitungkan oleh pihak lain. Kekuatan itu adalah Allah SWT, yang senantiasa berada di pihak yang benar. 

Allahu Akbar

Oleh: Prof. Dr.H. Kasman Singodimedjo 

Sumber majalah Serial Media Dakwah No:85 terbitan DDII 1981M/Ramadhan 1401H.

Kamis, 02 Agustus 2012

Ramadhan:“Intropeksi Diri”


Ditengah kemelut tontonan masyarakat. Setiap kita menyaksikan di media cetak, elektronik dan internet. Korupsi sudah menjadi kata tanpa makna. Tidak  ada lagi ketakutan menyebut nama itu. Tidak ada rasa malu melakukan korupsi. Karena korupsi sepantasnya diperhalus namanya menjadi “pencurian brangkas negara”. Korupsi menjadi hal biasa bagi lingkungan tingkat atas sampai bawah.  Sejak dari pejabat publik di lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif bahkan tingkat kelas bawah kelurahan desa-kota, RT dan RW. Hampir tak ada urusan yang tidak melibatkan korupsi (risywah), sementara uang sogok dan pelicin: sejak dari hal KTP,  IMB atau urusan mendapatkan proyek-proyek pemerintah, sampai untuk pengangkatan kedalam posisi tertentu dalam pemerintah dan lembaga publik.

Banyak pemangku jabatan di lembaga pemerintah dan publik, yang notabenenya maaf adalah orang-orang muslim, kelihatan sama sekali tidak mengemban amanah dan memegang kejujuran. Sebaliknya, posisi otoritas kekuasaan diselewengkan demi meraih keuntungan pribadi, kelompok dan partai politik. Akibatnya, kerusakan terjadi juga pada ranah institusi pemerintahan dan masyarakat yang lebih luas. Korupsi tidak lain mengakibatkan distorsi dan kekacauan luar biasa dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan penataan kehidupan publik.

Tanpa harus kita lihat secara objektif, pelaku tindak korupsi yang masih ditetapkan menjadi tersangka maupun yang sudah dijatuhi hukuman adalah orang-orang yang jika kita lihat dari namanya saja sudah memperlihatkan nama agamis. Namun seiring dibalik tindakan melakukan korupsi. Lebih memalukan lagi jika kepala jawatan itu menyalagukan kedudukannya untuk memperkaya diri dengan mencuri atau korupsi. “Pejabat” yang demikian itu mencemarkan nama baik kesusian agama. Negara dirugikan karena melakukan kecurangan dan korupsi! Masyarakat dirugikan karena tidak mendapatkan bimbingan.

Tak jarang pula para pelaku korupsi ini mencoba melakukan “pembenahan diri”, membersihkan dosa, misalnya dengan naik haji atau pergi umrah; mengirim anak-anak ke sekolah Islam, pasantren, atau madrasah; memberikan sodaqah, infak, dan zakat ke masjid atau lembaga pendidikan muslim; dan lebih telanjang lagi dengan memakai hijab atau bahkan cadar ketika diusut KPK atau kejaksaan dan di pengadilan. Masyarakat secara tiba-tiba dihadapkan dengan kesan, para pelaku yang berjilbab dan bercadar itu adalah orang-orang yang menjalankan perintah agama dan karena itu ‘’tidak mungkin korupsi”.

Akan tetapi, jelas, dosa karena korupsi dan perbuatan keji dan mungkar lain yang mereka lakukan tidak bisa dicuci dengan cara-cara seperti itu. Dosa sebesar biji jambu sekalipun tetap tercacat; tidak bisa terhapuskan. Dalam Islam, ada ajaran “la talbisu al-haqqa bi al-bathil—jangan mencampurkan kebenaran dengan kebatilan dan kemungkaran”. Perbuatan baik, seperti naik haji dan pergi umrah atau memberikan infak dan sedekah tidak secara serta-merta dapat menghapuskan tindakan batil dan mungkar, seperti korupsi.

Intropeksi Diri: Pemangku Jabatan                 
Jika pelaku korupsi tindakan dan perilaku mereka batil dan mungkar tentu haruslah melakukan intropeksi diri (musahabah). Bertobat kepada Allah SWT dengan cara tobat nasuha. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang beriman, bertaubatlah dan minta ampunlah kepada Tuhan sesungguhnya saja taubat seratus kali tiap-tiap hari”(H.R. Muslim).

Taubat secara bahasa diartikan kembali. Menurut istilah syar’iyah, ialah kembali kepada kesucian, setelah melakukan dosa. Tegasnya, kembali kepada aturan Allah SWT dan Rasulnya serta menjauhi larangannya. Pertama-tama mengharuskan penyelesaian atas perbuatan bathil dan mungkar yang telah dilakukan. Kemudian, diikuti dengan kesungguhan untuk kembali ke jalan yang benar dan pada saat yang sama berjanji kepada diri sendiri dan Allah SWT untuk tidak mengulangi perbuatan koruptif.

Akan tetapi, intropeksi diri dengan cara tobat dari kejahatan korupsi yang merugikan khalayak banyak, tidak bisa terselesaikan dengan hanya bertobat kepada Allah SWT. Sebaiknya , tobat tersebut bisa sah hanya dengan menyelesaikan urusan dengan semua pihak terkait. Jika pelaku tersebut melakukan koruspi, ia wajib mengembalikan uang dan harta hasil korupsinya kepada lembaga publik dan negara. Dengan kata lain, jika sekedar intropeksi tanpa mengembalikan harta dan uang hasil pengurasan khas negara, tobatnya adalah sia-sia. 

Bulan ramadhan membukakan pintu sifat lebar untuk melakukan Intropeksi diri, musahabah maupun taubatan nasuha yang dapat memperbaiki kehidupan pribadi, masyarakat, bangsa, dan agama. Dan bulan suci ini juga memberikan peluang sangat besar untuk penguatan integritas diri; menjadi orang-orang beriman, yakni terpelihara dari perbuatan keji dan mungkar. Serta berbagai perbutan koruptif lain.